Pemda dan Pertamina Diminta Evaluasi Stok dan Distribusi BBM di Bengkulu

KBRN, Bengkulu : Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang akhir-akhir ini terjadi di Bengkulu, pihak Pertamina agar melakukan eveluasimanajemen stok dan distribusi.

Hal itu penting dilakukan, meskipun soal keterlambatan pasokan BBM ini, pihak Pertamina beralasan karena kapal tangker pengangkut ke Bengkulu mengalami kendala cuaca.

“Diketahui kondisi yang sama sekitar 3 bulan yang lalu juga terjadi, khususnya BBM bersubsidi sulit didapatkan di Bengkulu. Makanya saran kita, puhak Pertamina segera melakukan evaluasi manajemen stok dan distribusinya,” ungkap Pengamat Ekonomi Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu, Dr. Anzori Tawakal, dalam dialog Bengkulu Menyapa RRI Pro Satu dengan tema “Menyikapi Langka-nya BBM Non subsidi di Bengkulu” pada Senin, (29/11/2021).

Menurut Anzori, pentingnya evaluasi manajemen tersebut juga, karena jika terus berlarut-larut akan berdampak pada perekonomian masyarakat Bengkulu, yang saat ini sudah mulai beransur-ansur pulih, dikawatirkan bisa kembali terhambat. Bahkan tidak menutup kemungkinan kembali terpuruk, seiring wabah pandemi Covid 19, saat ini juga belum sepenuhnya berakhir.

“Evaluasi manajemen stok jika selama ini pihak Pertamina menyiapkan untuk 18 hari, tidak ada salahnya dalam waktu seminggu kembali didatangkan stok BBM. Begitu juga dengan Pemerintah Daerah, jika kuota yang diberikan dirasa tidak mencukupi, bisa diusulkan agar bisa ditambah,” ujarnya.

Selain itu ia juga mengusulkan, disamping meningkatkan pengawasan di lapangan, jika ketersediaan BBM yang ada saat ini terbatas, agar Pemerintah Daerah berkoordinasi dengan pihak Pertamina dengan melibatkan pihak SPBU, dalam penjualannya kepada konsumen dibatasi, seperti untuk kendaraan roda 2 maksimal 5 sampai 10 liter dan kendaraan roda empat bisa 10 sampai 15 liter perhari.

“Saya rasa pengawasan melekat perlu ditingkatkan di SPBU, agar konsumen pembeli tepat sasaran. Kemudian, bisa juga menerapkan kebijakan lama, dengan membatasi konsumen dalam pembelian, hingga kondisi bisa normal kembali,” terangnya.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha di Bengkulu, Ahmad Nasti Nasution menyampaikan sependapat, jika ketersediaan stok BBM yang terbatas, dengan usulan pembatasan bagi konsumen dalam pembelian di SPBU.

Terlebih yang membeli BBM di SPBU, bukan peruntukan menunjang aktifitas keseharian saja, melainkan ada pihak pengecer yang ingin menjual kembali kepada konsumen.

“Solusi yang kita ambil dalam mendapatkan BBM di SPBU ditengah kondisi sulit dengan mengantri pada malam hari. Mengingat untuk mendapatkan BBM pada pagi hingga sore hari harus mengantri akan mengganggu aktifitasnya selaku pelaku usaha,” pungkas Nasti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar