Solusi Kelangkaan LPG 3 Kg, Ubah Pola Pendistribusian dan Perketat Pengawasan

KBRN, Bengkulu : Warga Kota, termasuk juga di wilayah Kabupaten dalam Provinsi Bengkulu, sampai saat ini masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG 3 Kg, baik di tingkat pangkalan maupun agen resmi yang ditunjuk PT. Pertamina.

Terlebih jika pun ada LPG berukuran melon itu di tingkat pengecer, harganya sudah melebihi ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), dari Rp. 15.300 pertabung menjadi Rp. 30 ribu, bahkan sampai dijual Rp.35 ribu pertabungnya.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekda Provinsi Bengkulu Anzori Tawakal mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) sudah berupaya agar distribusi LPG bersubsidi ini berjalan baik, dengan mengusulkan kuota dan telah disetujui oleh Kementrian ESDM untuk tahun ini sebesar 49.510 metrik ton, atau setara dengan 16 juta 503 tabung.

Apalagi jika dibandingkan dengan sebelumnya, terjadi kenaikan cukup signifikan, yakni hanya di angka 45 ribu metrik ton.

Hanya saja dengan kuota sebesar itu, dikatakan Anzori, sebetulnya mencukupi untuk sasaran keluarga prasejahtera dan pelaku UMKM, tetapi ternyata masih saja sulit didapatkan.

Padahal untuk ketetapan HET di Bengkulu, masih lebih kecil dibandingkan daerah tetangga, seperti, Provinsi Jambi diatas Rp. 17 ribu pertabung.

“Dari identifikasi kita, masih sulitnya mendapatkan LPG 3 Kg diperkirakan akhir-akhir ini, karena terkait pola distribusi yang selama 3 tahun terakhir tetap sama. Dimana dari pertamina ke agen maupun pangkalan di duga tidak merata, terutama ketika di awal berbeda dengan di akhir bulan, sehingga dalam kondisi itu konsumen justru membeli dalam jumlah yang banyak. Belum lagi yang membeli tersebut, juga tidak diketahui pasti penerima sasarannya atau tidak,” ujarnya dalam Dialog Bengkulu Menyapa yang digelar RRI Pro1 Bengkulu dengan tema “Kelangkaan LPG 3 Kg di Bengkulu,” pada Senin, (20/9/2021).

Selain itu menurut Anzori, sulitnya warga mendapatkan LPG berukuran melon ini, diperkirakan belum optimalnya sinergi dan koordinasi antara Pertamina, dengan Hiswana Migas dan Pemerintah Daerah selaku pihak yang mengawasi di lapangan.

Apalagi pada tahun lalu, sebetulnya sudah ada inisiasi dari Pemerintah Kota (Pemkot) agar dibuatkan kartu khusus untuk penerima manfaat LPG, namun sampai sekarang belum terealisasi.

Lalu ditambah lagi, pandemi ini juga berdampak pada perekonomian masyarakat yang sebelumnya baik, menjadi menurun. Dengan itu membeli BBM bersubsidi.

“Diharapkan Pertamina dapat sinergi dan koordinasi kedepan dan jangan setelah ada masalah baru bersikap. Berbeda dengan tahun 2019 lalu, sinergi dan koordinasi lintas sektoral sangat aktif, sehingga masalah yang ada cepat dicarikan solusinya. Mudah-mudahan saja langkah penambahan tabung gas beserta isi yang dilakukan Pertamina saat ini, mengatasi permasalahan sulitnya mendapatkan gas melon di Bengkulu,” harapnya.

Sementara itu, Ketua RT 02 Jalan Gedang Kota Bengkulu Supratman mengaku, saat ini masyarakat masih sulit mendapatkan LPG 3 Kg, dan jika pun ada harganya sudah melebihi HET.

Padahal diketahui sebelumnya pihak Pertamina sudah menambah pasokan ke Bengkulu. Tetapi LPG 3 Kg masih saja sulit didapatkan sesuai dengan harga HET.

“Saya menyarankan kepada Pemerintah Daerah melalui dinas teknis, agar melakukan pengawasan, sehingga dalam pendistribusiannya menjadi tepat sasaran. Pasalnya tidak dipungkiri, juga yang membeli LPG 3 Kg ini belum sepenuhnya si penerima manfaat,” pungkas pria yang akrab disapa Iwan ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00