Sumartini Olah Sampah Plastik Menopang Ekonomi Keluarga

BENGKULU, KBRN: Bermula dari sebuah suvenir yang diberikan temannya yang baru pulang dari Lampung, belasan tahun silam, Sumartini yang baru saja meraih juara satu lomba sulam Piala Walikota Bengkulu pada 2008 ini lantas memilih mengolah sampah rumah tangga menjadi sumber pendapatan keluarga.

Beragam kerajinan tangan dari bahan plastik sudah dia kuasai. Usaha yang sudah dia lakoni selama 13 tahun itu kini sudah menjadi sumber pemasukan bagi keluarga dan orang di sekitarnya.

"Saya merintis mulai tahun 2008. Idenya dari ikut lomba sulam dan dapat juara satu. Lalu ada teman yang kasih suvenir yang sangat menarik terbuat dari plastik. Lalu saya bongkar dan coba pelajari cara merangkainya sendiri berkali-kali sampai menguasai," cerita Sumartini saat dijumpai RRI di kediamannya.

Suatu hari hasil kerajinan tangan yang dicontohnya tadi dibawa anaknya ke sekolah. Rupanya teman-teman anaknya di sekolah malah suka dan berminat membelinya. Dari situ, mulailah ibu tujuh anak ini melihat peluang rupiah dari sampah plastik yang biasanya dibuang begitu saja setelah dipakai.

Seiring dengan makin banyaknya peminat, lambat laun usaha Ibu Sumarti pun berkembang. Terbukti, dari semula bekerja sendiri lalu dibantu satu dua orang, kini usahanya sudah bisa mempekerjakan 12 orang yang rata-rata masih berstatus mahasiswa.

Kreatifitas Sumarti terus berkembang. Selain memproduksi tas, usaha kreatifnya juga mampu memproduksi berbagai jenis dan bentuk barang. Ada hiasan wadah air mineral, boneka, hingga miniatur orang berpakaian adat Bengkulu. Termasuk masker dan asesorisnya.

"Pokoknya apa yang sedang tren kita ikuti. Apalagi anak-anak yang ikut membantu suka melihat beragam karya kreatifitas di youtube. Kalau ada yang baru dan tren, kita segera bikin lalu dipasarkan," cerita Sumartini yang tinggal di Kelurahan Timur Indah, Kota Bengkulu.

Sumartini mengatakan, untuk memproduksi barang-barang kerajinan tangan itu ia membutuhkan waktu yang relatif pendek. "Begitu ada karya terbaru dan bagus, kita pelajari bagaimana cara membuatnya lalu dibikin sendiri," kata Sumartini.

Sumartini yang dulunya membuka usaha menjahit pakaian mengakui beberapa bahan untuk membuat kerajinan tangan berupa manik-manik untuk tas dan pernak-perniknya lainnya terpaksa dia datangkan dari luar Bengkulu karena lebih murah. Yang paling sering adalah dari Jambi dan Lampung.

"Kalau yang lain seperti bekas bungkus kopi, bungkus mie instan atau tutup botol,masih dari sekitar rumah dan pasar di Bengkulu. Nggak perlu beli, kita dapatnya gratis karena memang barang-barang ini biasanya dibuang saja habis dipakai," kata Sumartini.

Berkat keuletan dan konsistensinya, pada 2014 lalu ia mendapat perhatian Pemerintah Kota Bengkulu. Lewat program KOTAKU, usaha Sumartini dibantu modal Rp 6 juta. Tak hanya itu, ia juga kerap melayani order anak-anak sekolah yang minta dibikin karya kerajinan tangan dari sampah.

Namun selama akibat pandemi Covid-19 setahun terakhir, usaha Sumartini pun kena imbas. Tak ada lagi ajang pameran untuk mempromosikan karya dan usahanya. Termasuk sepi order anak-anak pelajar karena sekolah yang menerapkan pembelajaran daring atau online. Atau undangan komunitas untuk mengisi materi pelatihan. Dengan kondisi itu, Sumartini mengaku omsetnya kini hanya Rp 3 juta per bulan.

Untuk terus melanjutkan usaha ini, Sumartini berharap dukungan pemerintah dan lembaga lainnya. Utamanya untuk penyediaan alat atau mesin untuk membuat bagian dalam kerajinan tas yang memang paling laris dibanding yang lainnya. "Kalau dengan tangan bisa, tapi hasilnya kurang maksimal. Ternyata ada mesin khusus untuk bikin dalaman tas itu sehingga hasilnya lebih rapi dan bagus," tandas Sumartini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00