Komsumsi Meningkat Selama Ramadhan, Bengkulu Catat Inflasi 0,47 Persen

BENGKULU, KBRN: Momentum Idul Fitri di tengah pandemi COVID tahun 2021 memberi dampak yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Beberapa aktivitas ekonomi memberikan indikasi peningkatan selama periode Puasa yang diperkirakan berlanjut.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Joni Marsius, Kamis (29/4), dalam press rilisnya yang disampaikan secara virtual, menjelaskan beberapa indikasi meningkatnya aktivitas ekonomi tersebut.

"Konsumsi terindikasi meningkat berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan peningkatan indeks keyakinan konsumen atau IKK dari 88,3 di TW-I 2021 menjadi 101,25 di posisi April 2021," ujarnya. "Nilai IKK tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin yakin terhadap prospek pemulihan ekonomi."

Indikasi kedua adalah peningkatan konsumsi ini juga didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat terutama untuk transaksi retail dan grocery sebagaimana hasil Google Mobility Index.

Selain itu, perbaikan konsumsi masyarakat juga didorong oleh membaiknya penghasilan rumah tangga yang terindikasi oleh meningkatnya Indeks Penghasilan Konsumen yang semula 60 menjadi 80 dan Nilai Tukar Petani yang semula 120,03 menjadi 128,78; serta seiring dengan membaiknya harga komoditas perkebunan dan inflasi yang terkendali. 

Perbaikan konsumsi diproyeksikan akan terus meningkat selama puasa Ramadhan, seiring dengan pencairan THR, gaji ke-13 dan bonus perusahaan, paparnya.

Selain hal itu, beberapa realisasi program PEN mendukung pula upaya menjaga penghasilan rumah tangga. Berdasarkan data dari DJPb per 16 April 2021, PKH telah  disalurkan sebesar Rp112,7 miliar rupiah dengan jumlah KPM 155.741. 

Kemudian Bantuan Sembako telah disalurkan sebesar Rp84,69 miliar dengan jumlah KPM 423.448, Program Kartu Prakerja telah disalurkan sebesar Rp173,64 miliar dengan jumlah KPM 48.913, 

"Klaim Rumah Sakit telah disalurkan sebesar Rp16,19 miliar dengan jumlah pasien COVID-19 235 orang dan Bantuan Produktif Usaha Mikro yang telah disalurkan mencapai Rp62,65 miliar dengan jumlah penerima 52.213," urai Joni.

Seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi, kata Joni, inflasi mengalami peningkatan. Berdasarkan data historis, rata-rata inflasi selama bulan Ramadhan-Idul Fitri adalah 0,47% (mtm) sementara di luar itu sebesar 0,08% (mtm). 

"Kecenderungan peningkatan harga terjadi 2 hari menjelang Ramadhan dan 1 minggu menjelang Idul Fitri. Komoditas yang biasa memberikan sumbangan terbesar pada inflasi di bulan Ramadhan dan Idul 

Fitri antara lain beras, ikan nila, jeruk, telur ayam ras, kangkung, daging ayam, minyak goreng dan daging sapi," sebutnya.

Sejauh ini, kata Joni, berdasarkan hasil pemantauan Bank Indonesia harga komoditas volitile food mengalami peningkatan khususnya komoditas daging ayam dan minyak goreng.

Berkenaan dengan menjaga inflasi di bulan Ramadhan, timpal Joni, TPID Provinsi Bengkulu telah merumuskan langkah-langkah pengendalian.

"Langkah-langkahnya adalah melakukan operasi pasar dan pemantauan harga eceran tertinggi; Memastikan armada untuk distribusi dan angkutan tidak terganggu; Komunikasi efektif dengan menggandeng influencer yang memiliki potensi yang besar," bebernya.

Meski demikian, kata Joni, perlu dijaga momentum ini agar dapat terus berlangsung. Satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga prospek pemulihan ini adalah penanganan kasus pandemi COVID-19 di Provinsi Bengkulu. 

Sebab, secara nasional, tren COVID mengalami  penurunan tetapi tren kasus COVID di Provinsi Bengkulu terus mengalami peningkatan di seluruh wilayah.

Lebih jauh, Joni menyegut bahwa indikasi peningkatan aktivitas ekonomi di Provinsi Bengkulu juga tercermin dari perkembangan sistem pembayaran tunai dan non tunai. 

Transaksi penarikan selama Ramadhan 2021 tercatat Rp711 miliar pada periode 15 hari pertama bulan Ramadhan lebih tinggi 33,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.  Sementara, transaksi penyetoran perbankan masih tercatat lebih rendah 15% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00