IDI Bengkulu Membantah Banyaknya Hoaks Perihal Vaksinasi di Media Sosial

KBRN, Bengkulu: Vaksinasi Covid 19 menjadi upaya banyak negara untuk dapat segera menghentikan wabah Covid 19, pro dan kontra tentang vaksinasi muncul sejak awal rencana melakukan vaksinasi, tak terkecuali di Indonesia.

Presiden RI bahkan menjadi orang pertama divaksin untuk meyakinkan public, namun tetap saja hoaks tentang vaksinasi khususnya yang menimpa presiden Jokowi ataupun pejabat negara lain bertebaran di dunia maya.

Baru baru ini viral hoaks tentang cairan vaksin yang belum masuk ke lengan presiden Jokowi namun jarum suntik sudah dicabut oleh vaksinator yang merupakan dokter senior. Ikatan Dokter Indoneisa (IDI) pusat membantah hal tersebut dan mengatakan hoaks sangat tidak berdasar.

RRI melakukan konfirmasi kepada IDI Bengkulu, ketua ketua IDI Begkulu dr. Syariadi mengatakan masyarakat salah paham dan penyebar hoaks benar benar sengaja menimbulkan kegaduhan, warna biru yang terlihat pada jarum suntik saat siaran langsung vaksinasi Presiden yang disebut cairan vaksin oleh penyebar hoaks adalah bagian plastik pangkal jarum atau penghubung tabung suntik dengan jarum suntik, sehingga sampai kapanpun warna biru itu tidak akan pernah hilang.

“itu pangkal jarum, ada yang biru ada yang agak hijau warna, sampai kapan pun nggak akan bisa hilang, karena itu plastik keras bukan cairan vaksin” Ungkap dr. Sayriadi saat diwawancarai RRI Rabu (20/1/2021).

Belum lagi hoaks bila cairan vaksin tidak masuk ke otot presiden lantaran jarum suntik yang tidak menembus lapisan otot karena disuntik terlalu miring, serta menyatakan vaksinasi terhadap persiden gagal. Kembali dr. Syafriadi mengatakan derajat kemiringan penyuntikan pada setiap orang berbeda, lantaran ketebalan daging pada lengan seseorang tidak sama satu sama lain.

Selanjutnya hoaks bila cairan yang disuntikkan kepada pejabat negara tanggal 13 Januari 2021 lalu adalah vitamin C bukan vaksin Sinovac, sambil tertawa dr. Syafriadi menjelaskan kepada RRI bila ketidak pahaman publik sangat diperdaya oleh orang orang yang sengaja ingin menggagalkan program vaksinasi nasional.

“inilah buktinya masyarakat tidak paham, cairan vitamin C tidak bisa disuntikan di otot karena akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, meringis kalau disuntikkan ke otot. Suntik vitamin C harus dilakukan langsung ke pembuluh darah agar segera terserap dan berdedar ke seluruh tubuh” tambah dr. Syafriadi sembari tertawa geli.

Ia mengaku sangat menyayangkan banyaknya hoaks yang beredar. Hal itupun membuat tugas pemerintah semakin berat lantaran harus terus menerus meluruskan pemahaman kepada masyarakat bila sejumlah informasi yang beredar tidak benar dan harus bekerja ekstra meyakinkan bila vaksin aman dan halal.

Hoaks yang tersebar luas itu cukup berbahaya karena mengiring opini bila pemerintah melakukan pembohongan publik dengan narasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00