Gajah Diujung Gading

Bengkulu, KBRN: Semburan air dari belalai gajah dan saut sautan suara gajah menjadi gambaran begitu riangnya para gajah, bermain dialiran sungai bersama para mahut atau pawang gajah. 12 ekor gajah itu milik BKSDA propnsi Bengkulu, yang tengah dikonservasi dipusat pelatihan gajah TWA Seblat Bengkulu Utara. Disebuah desa bernama Suka Baru kawasan pelatihan gajah menjadi rumah perlindungan terakhir bagi gajah untuk bisa selamat dari ancaman kepunahan. Namun nasib 12 ekor gajah itu jauh lebih baik, karena sekitar 35 gajah liar lainnya kini terkatung katung ditengah hutan, tak bisa kembali ke TWA Seblat ataupun kembali kehabitat besarnya di kawasan Hutan TNKS .

Akademisi Univeritas Bengkulu Gungum Setioadji mengatakan, gajah gajah liar kini terkepung oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan. Gajah gajah itu perlu segera diselamatkan. Lantaran Selama kurun waktu 20 tahun terjadi penurunan jumlah gajah hingga 500 persen atau sangat signifikan.

Satu satunya musuh gajah saat ini adalah manusia, namun manusia pulalah yang bisa menyelamatkan gajah. Direktur lembaga swadaya masyarakat (LSM) Kanopi Bengkulu Ali Akbar menyebut upaya penyelamatan gajah masih terkendala dengan stigma negatif bila sekelompok pemerhati gajah seolah hanya lebih mementingkan gajah dari pada kelangsungan hidup manusia. Padahal pemikirian tersebut ungkapnya sangatlah tidak tepat karena penyelamatan gajah merupakan penyelamatan ekosistem dan lingkungan untuk saat ini hingga ratusan tahun mendatang.,

Sementara itu, diakui oleh kepala BKSDA propinsi Bengkulu Donal Hutasoit bila alih fungsi hutan dan lahan merupakan penyebab utama berkurangnya populasi gajah. Kematian gajah berdasarkan kajian pihaknya terjadi baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Seperti mati diracun, ditmbak, atau bahkan sengaja dibunuh karena manusia merasa terancam.  Gajah oleh sekelompok oknum masih dianggap sebagai gangguan atau hama yang memakan hasil kebun atau pertanian mereka, sementara perburuan liar untuk medapatkan gading gajah masih mengintai.

Donal Hutasoit salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mewujudkan kawasan ekosistem esensial (KEE), secara prinsip hal itu sudah disetujui oleh kementerian lingkungan hidup dan juga gubernur Bengkulu. KEE nantinya menghubungkan TWA Seblat dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, yang selama ini terputus akibat adanya aktivitas perkebunan dan pertambangan, sehingga membuat gajah terpisah dan tidak bisa kembali ke rumah, dan memaksa mereka masuk kewilayah perkebunan dan pemukiman warga untuk mencari makan. KEE nantinya akan menjadi wilayah jelajah bagi gajah, selaku hewan yang terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain. KEE juga dirancang sebagai sebuah komitmen bersama masyarakat dan pihak korporasi untuk bersama sama menyelamatkan gajah, sekaligus kawasan hutan yang tersisa untuk tidak lagi menjadi lahan tambang ataupun perkebunan. 

Lewat upaya yang sangat panjang, LSM dan pemerintah serta tokoh masyarakat membentuk Koalisi Penyelamat Bentang Seblat, sebuah koalisi yang menyuarakan upaya penyelamatan gajah sekaligus penyelamatan kawasan Seblat Bengkulu Utara yang juga tidak lepas dari ancaman, yaitu upaya sekelompok perusahaan perkebunan dan pertambangan untuk mengambil sebagai lahan TWA sebagai lahan konsesi. Adalah Sofian salah seorang pegiat Koalisi Bentang Seblat,  menyebut gajah bisa saja punah dalam waktu bebarapa tahun kedepan, lantaran laporan kasus kematian gajah masih lebih tinggi dibandingkan angka kelahiran anak gajah.

Banyak hal yang terselamatkan dalam upaya menyelamatkan gajah, yakni penylamatan kawasan TWA Seblat, sebagai pusat populasi gajah yang kini berada dijurang kepunahan, serta menjaga fungsi hutan dan lahan agar tidak berubah menjadi lahan pertambangan. Gajah adalah pelindung sekaligus hewan yang dilindungi, dengan melindungi gajah maka akan harus melindungi kawasan lahan dan hutan sebagai tempat gajah bernanung, dan manusia menggantung hidup. (rj)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00