Tatanan Kehidupan Baru, Senator Sebut Waspadai Gelombang Kedua Covid-19

KBRN, Bengkulu : Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Direktur Eksekutifnya, Dr Mike Ryan, Kamis (28/5/2020), mengingatkan, dunia masih menghadapi gelombang pertama wabah virus Corona atau COVID-19.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, peringatan ini penting dicermati bersama di tengah maraknya wacana penerapan tatanan kehidupan baru atau New Normal di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota.

"Di banyak negara dan di Indonesia sendiri barusan saya dapatkan kasusnya bertambah. Kalau per hari ini gelombang pertama saja di seluruh dunia sudah hampir 6 juta kasus, maka gelombang kedua pandemi ini patut diwaspadai," kata Riri Damayanti, Jumat (29/5/2020).

Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini menjelaskan, terbukanya lalu lintas informasi dunia, seharusnya bisa memberikan pelajaran kepada setiap pemimpin untuk menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi pandemi.

"Di Amerika dan Korea Selatan yang telah menerapkan kebijakan tatanan kehidupan baru, kasus positif justru melonjak. Informasi ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi ini penting untuk dicermati sebagai peringatan dini," ujar Riri.

Selain itu Senator Bengkulu mengaku tak menutup mata terhadap data Center of Reform on Economics (Core) Indonesia yang merilis, bahwa banyak orang yang berada di golongan hampir miskin terancam terjun ke dalam garis kemiskinan karena terimbas Corona dengan jumlah mencapai 67 juta orang.

"Bantuan terus disalurkan kepada mereka yang berhak, sementara pengangguran terus membengkak. Roda ekonomi memang harus berputar, tapi harus dengan cara-cara konkret dalam mencegah penyebaran wabah," ungkap Riri.

Lebih lanjut ia menjelaskan, cara-cara konkret tersebut adalah mengurangi beban sistem perawatan kesehatan dan mencegah lebih banyak kematian.

"Petugas medis kita masih kelawahan. Sementara vaksinnya masih belum ditemukan. Makanya sampai hari ini, pakai masker, tak perlu keluar rumah tanpa keperluan mendesak, jaga jarak, rajin cuci tangan dan lain-lain tetap harus berlaku dengan disiplin yang tinggi," sampai Riri Damayanti.

Data terhimpun, gelombang kedua corana dicirikan dengan adanya lonjakan tajam infeksi virus corona yang muncul secara tiba-tiba ketika temuan kasus positif Covid-19 masih tinggi. 

Tidak terpola seperti gelombang pertama, pada gelombang kedua justru muncul saat tingkat infeksi penyakit Covid-19 mulai stabil.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00