Kasus Pembunuhan Mahasiswi, 18 Orang Diperiksa, Seorang Tsk, 4 Wajib Lapor

BENGKULU, KBRN: Polisi terus bekerja mengungkap kasus pembunuhan mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu, Wina Mardiani, yang terjadi baru-baru ini. Sekitar 18 orang saksi dan yang diduga terkait kasus tersebut sudah diperiksa.

Bahkan seorang di antaranya berinisial WL (27) sudah ditetapkan sebagai tersangka karena berperan sebagai penadah sepeda motor korban yang digadaikan oleh orang yang dicurigai atau pelaku utama yang kini masih dalam pengejaran. 

Sedangkan satu orang lainnya berinisial Y masih berstatus sebagai saksi.

"Dari hasil pengembangan dan penyidikan, kami telah mengamankan dua orang yang diduga terlibat dalam kasus ini. Satu orang sudah kita tetapkan sebagai tersangka yakni WL karena berperan sebagai penadah sepeda motor korban," ujar Kapolres Bengkulu, AKBP Prianggodo Heru Kun Prasetyo melalui Kasatreskrim, AKP Indramawan Kusuma, Rabu (11/12/2019).

Tersangka WL, terang Indramawan, menyanggupi permintaan terduga pelaku utama untuk menggadaikan sepeda motor milik korban sebesar satu juta rupiah. "Motor tersebut sudah kita pastikan benar milik korban," tambah dia.

Dari keterangan para saksi, lanjut Indramawan, terduga pelaku meminjam uang kepada tersangka WL. Sebagai jaminannya adalah sepeda motor korban.  

Y meminjamkan uang satu juta untuk diberikan kepada terduga pelaku karena saat itu tersangka WL masih dalam perjalanan ke Kota Bengkulu.

Wajib Lapor

Selain itu, polisi juga menetapkan empat penghuni kosan dimana korban tinggal wajib lapor. Mereka diduga mengetahui kasus pembunuhan tersebut. 

AKP Indramawan mengatakan yang dikenakan wajib lapor tiga orang penghuni kos dan istri terduga pelaku utama.

“Kita masih memerlukan saksi tersebut ,jadi kita kenakan wajib lapor biar memudahkan penyidik untuk mengambil keterangan saksi jika dibutuhkan," ujarnya.

Soal kemungkinan saksi yang wajib lapor dijadikan tersangka, Indramawan mengatakan hanya untuk mempercepat proses dan penyidik belum mengarah untuk menaikkan status saksi yang wajib lapor itu.

“Kita cuma bisa mengamankan satu kali 24 jam jadi untuk memberikan kepastian saksi kita kenakan wajib lapor saja”, tegas AKP Indramawan Kusuma Trisna.

Hasil Autopsi

Sehari sebelumnya, Tim Forensik Mabes Polri dan Polda Sumatera Selatan yang mengautopsi jenazah korban menemukan ada luka bekas jeratan menggunakan nilon di leher dan lidah patah.

Indramawan menjelaskan, lidah korban patah dengan posisi menjulur dan tergigit. ''Ada bekas jeratan di bagian leher. Dijerat menggunakan tali nilon, lidah korban patah,'' ujar Indramawan di ruangan kerjanya, Selasa (10/12/2019). 

Autopsi dilakukan tim Forensik Mabes Polri dan Polda Sumatera Selatan pada Senin 9 Desember 2019 sekira pukul 10.01 WIB hingga pukul 13.01 WIB. 

Sementara jenazah korban masih mengenakan baju dan hijab berwarna pink, celana pendek di atas tumit berwarna hitam dan mengenakan dalaman. Wina pun diketahui sudah meninggal lima hari sebelum akhirnya ditemukan jasadnya.

Indramawan menambahkan, banyak versi dalam kejadian yang menimpa anak pertama dari tiga bersaudara ini. Mulai dari dugaan pembunuhan berencana, perbuatan asusila, dan pencurian sepeda motor. 

Namun, kata Indramawan, pihaknya masih mendalami kasus yang dialami perempuan kelahiran Desa Medan Jaya, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, 23 Maret 2019 ini. Satreskrim telah meminta keterangan 18 saksi. 

"Dalam kejadian ini ada dugaan perbuatan pembunuhan, asusila dan pencurian,'' ujar Indramawan. 

Terduga pelaku pembunuhan Wina diduga lebih dari satu orang. Setiap terduga pelaku yang dicurigai memiliki peran masing-masing dalam melancarkan aksi dugaan pembunuhan tersebut. 

''Terduga pelaku pembunuhan korban (Wina) yang dicurigai bisa lebih dari satu orang,'' kata Indramawan. 

Seperti diketahui, Wina Mardiani (20) ditemukan meninggal dunia, Minggu 8 Desember 2019 sekira pukul 17.06 WIB. Perempuan kelahiran Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, 23 Maret 1999 itu ditemukan tidak bernyawa tak jauh dari tempat kosnya atau sekira 100 meter. Tepatnya, di areal rawa perkebunan sawit bekas areal persawahan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00