Soal Penyu Mati, Sample Air Bahang PLTU Bengkulu di Uji Laboratorium IPB

KBRN, Bengkulu : Guna menjawab kepastian penyebab matinya penyu yang tercatat hingga kini sudah sebanyak 12 ekor di seputaran pesisir pantai, termasuk di Teluk Sepang Bengkulu, sample air bahang PLTU Batu Bara 2x100 Megawatt Bengkulu yang sebelumnya sudah diambil dari sidak Komisi III DPRD Provinsi dengan didampingi instansi terkait, telah dikirim ke Institute Pertanian Bogor (IPB), untuk dilakukan uji laboratorium lebih lanjut.

“Meski dari hasil uji lab lapangan saat sidak bersama yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi, air bahang PLTU masih berada dalam ambas batas atau diduga belum tercemar, namun sample air bahang PLTU Bengkulu yang telah diambil, telah dikirimkan oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) ke IPB, untuk uji kembali hasilnya. Hasilnya kita tunggu saja dulu,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Provinsi, Sumardi, kepada sejumlah wartawan di Bengkulu

Selain itu dikatakan Sumardi, pihaknya juga akan mengusulkan kepada dinas teknis untuk melakukan uji lab lanjutan terhadap biota laut yang berada di dekat pesisir pantai, tepatnya di dekat PLTU Batu Bara Bengkulu.

Dengan begitu akan diketahui partikel-partikel yang terkandung di dalam biota laut tersebut.

“Kita memang belum mengetahui secara pasti penyebab matinya penyu-penyu tersebut. Tapi sebagai bahan perbandingan lainnya, kita juga akan minta dinas teknis bisa menangkap beberapa biota laut di dekat PLTU, untuk dilakukan uji lab nantinya,” kata Anggota DPRD Provinsi dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Bengkulu ini, Rabu, (11/12/2019).

Lebih lanjut ditambahkan Politisi Golkar Bengkulu ini, kendati dari hasil uji lab lapangan, air bahang PLTU Batu Bara Bengkulu diduga belum tercemar, namun bukan tidak mungkin kedepannya akan terjadi.

Oleh karena itu pihaknya mengingatkan pihak Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) selaku pengelola PLTU, agar tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Apalagi air yang digunakan pihak PLTU tersebut bersumber dari air laut.

“Sementara ini kita (legislatif,red) berpraduga baik dulu terhadap keberadaan PLTU, tapi kedepan tidak menutup kemungkinan berubah, dengan dasar hasil uji lab yang dilakukan. Makanya sekarang memang masih perlu dilakukan pendalaman lagi,” tukas Sumardi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00