Menghidupkan Kembali Permainan Galasin atau Calabur

KBRN, Bengkulu: Galasin, galah asin atau permainan gobak sodor menjadi salah satu permainan khas masyarakat Indonesia yang telah lama berkembang. Di semua wilayah Indonesia terdapat penamaan berbeda terhadap permainan ini. Di Sumatera umum disebut calabur, termasuk di Bengkulu. Di Rejang Lebong permainan ini disebut cabur, karena tanda memulai permainan salah satu tim harus mengucapkan kata cabur.

Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan supaya tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Satu tim bertindak sebagai penyerang dan satu tim penghadang. Jika tim penghadang yang terdiri dari 4 orang, 3 orang diantaranya akan menghadang secara horizontal dan 1 orang akan bertindak sebagai kapten yang bertugas pada garis tengah atau menjadi peluncur.

Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan dengan acuan garis tengah vertikal dan 3-5 garis horizontal, atau juga bisa dimainkan di lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi dibuat bentuk sebagai 6 bidang. 

Di era sekarang ini permainan calabur memang jarang terlihat, namun mulai marak dimainkan kembali saat perayaan 17 Agustus di lingkungan kantor. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus cukup sulit karena setiap orang harus selalu bertugas menjaga dan berlari secepat mungkin. 

Untuk melestarikan permainan rakyat, RRI Bengkulu (19/8/2022), menghidupkan permainan tradisi ini sebagai rangkaian kegiatan hari radio ke 77 tahun sekaligus masih dalam suasana peringatan HUT kemerdekaan RI ke 77. 

Panitia lomba Harris menyebut permainan ini adalah adu strategi dan kekompakan dalam tim untuk berhasil melintasi batas garis permainan. Tim yang yang berhasil menembus seluruh kotak penjagaan adalah tim yang dinyatakan pemenang, sebaliknya jika salah satu anggota penyerang tertangkap atau tersenggol oleh tim penghadang maka tim penghadang menjadi pemenang. Selanjutnya tim akan bertukar posisi secara bergantian hingga beberapa ronde. 

"untuk melestarikan kearifan lokal karena permainan ini sudah lama hilang" ujarnya.

Memainkan permainan calabur memang seolah membuka kembali semua ingatan di masa kecil era tahun 2000 kebawah, saat permainan ini mudah ditemukan dimana saja. Mulai dari jalan umum, lapangan, sekolah, hingga halaman rumah.

"Seolah kembali ke masa kecil, sudah nggak ingat kapan terakhir main pemainan ini" tutur Arpan salah seorang penyiar RRI Bengkulu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar