Kegundahan Media Penyiaran Perihal Migrasi Analog ke Digital

KBRN, Bengkulu: Penyiaran digital menjadi keputusan yang telah diambil oleh pemerintah seiring diketuknya UU Cipta kerja nomor 11 tahun 2020. Penyiaran digital secara resmi harus mengudara di seluruh wilayah Indonesia dengan batas akhir 2 November 2022. Saat itu semua siaran tv analog akan dimatikan atau dinonaktifkan.

Sementara itu untuk memulai proses tahapan penonaktifan tv analog, penyiaran tv digital dibagi menjadi 3 tahap yakni tahap pertama 30 april 2022, Agustus 2022 dan terkahir November 2022.

Bengkulu menjadi 1 diantara propinsi yang sejak awal direncanakan masuk tahap 1 penonaktifan tv digital 30 April lalu, namun hingga kini ternyata masyarakat Bengkulu masih bisa menikmati siaran tv analog sekaligus siaran tv digital.Ketua KPID Propinsi Bengkulu Alberce mengakui bila pada akhirnya Bengkulu batal masuk tahap pertama.

Hal itu karena distribusi STB dari pemerintah pusat yang jauh dibawah target, yakni kurang dari 10 persen dari total 14.763 stb yang harus dibagikan. Hal ini ungkap Alberce mendapatkan protes dari lembaga siaran tv lokal yang sudah mematuhi aturan pemerintah dengan beralih ke tv digital dan telah mematikan siaran mereka secara analog

"di Bengkulu semua siaran tv sudah ke digital, termasuk tv lokal dan tv siaran berjaringan, tapi nyatanya Bengkulu ditunda" ungkapnya.

Pimpinan redaksi BE TV Santo mengaku cukup kecewa karena sejak awal penyelenggara tv seolah ditakut takuti tidak bisa lagi mengudara bila tidak segera pindah ke penyiaran model digital. Akhirnya 2 tv lokal di Bengkulu pada detik detik akhir batas akhir tahap 1 menyewa pemancar siaran tv digital milik TVRI.

Akibat telah beralihnya 2 tv lokal Bengkulu itu ke siaran digital, santo mengakui pihaknya kehilangan penonton hingga 65 persen. Hal itu karena belum banyak masyarakat yang beralih ke siaran tv digital.

"awalnya kami dikejar kejar supaya cepat pindah ke digital dari analog. Ngurus administrasi dan memikirkan biaya sewa pemancar, yang buat kami kecewa ternyata Bengkulu ditunda. Penonton kami banyak hilang karena yang pakai tv digital masih sedikit, sedangkan analog sudah kami matikan" keluh Santo.

Santo meminta pemerintah serius terkait rencana tersebut karena telah merugikan penyelenggara tv lokal. Senada dengan Janarvis penanggung jawab siaran salah satu tv swasta di Bengkulu ini mengatakan pemerintah harus tegas dan serius karena pihak penyelenggara siaran tv sudah bersedia mematuhi ajakan pemerintah.

Sementara itu komisioner KPI Pusat Irsal Ambia mengatakan bila pembatalan sejumlah propinsi dalam tahap 1 termasuk Bengkulu diluar perkiraan pihaknya, karena distribusi STB dari sejumlah pemenang penyelenggara mux siaran digital yang tidak berjalan dengan baik.

Di seluruh Indonesia secara total terdapat 14 juta STB yang harus dibagikan oleh penyelenggara siaran digital dan pemerintah pusat."

memang persoalan distribusi STB jadi kendala utama, di Bengkulu ini bahkan kurang dari 10 persen STB yang sudah tersalur. Setalah kami komunikasi di pusat, memang stok STB yang tidak cukup" ucap Irsal.

Namun hingga detik ini ia memastikan bila siaran digital pada akhir tetap akan mengudara, dan siaran analog akan segera di suntik mati sesuai amanat UU.

Penyelenggaraan siaran tv digital rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan, masih banyak warga yang bingung tentang apa itu siaran digital, tak sedikit yang menduga bila ini adalah kebijkan non permanen. Sejumlah pihak juga mempertanyakan apakah nanti masyarakat tidak perlu mengganti perangkat siaran STB ke perangkat lain untuk tetap mendapatkan siaran tv. Seperti pengalaman warga yang menikmati siaran tv dengan alat bantu receiver dan parabola, baik itu berbayar ataupun tidak berbayar.

Kegundahan rupanya tak hanya dirasakan oleh pegiat media tv, pegiat media radio juga buka suara perihal migrasi siaran ini. Soleh direktur Jazirah FM mengatakan radio juga berpotensi bermigrasi Menjadi siaran radio digital, bila hal itu terjadi maka kematian siaran radio adalah hal yang tidak mustahil. Paska pandemi Covid 19 puluhan bahkan ratusan siaran radio di Indonesia mati atau gulung tikar, di kota Bengkulu saja setidaknya 6 stasiun radio telah tutup.

Menanggapi hal ini kembali Irsal Ambia mengakui bila wacana itu memang pernah terdengar namun untuk saat ini sulit untuk terwujud. Irsal mengatakan penyiaran tv digital saja belum berjalan baik apalagi penyiaran radio.

"siaran digital ini jadi keniscayaan, harus dijalankan  Hanya saja saat ini fokus baru ke tv, ke radio belum dalam waktu dekat, dan sepertinya masih akan cukup lama" tambahnya.

Namun kegelisahan 2 media penyiaran tv dan radio zaman ini memang menjadi hal yang dinilai lumrah, hal itu karena media siaran tv dan radio bersaing sangat keras dengan media penyiaran berbasis internet. Apalagi kini masyarakat cenderung menyukai penyiaran berbasis internet yang penuh kebebasan, tanpa sensor dan hampir menyalahi etika yang telah dianut oleh lembaga penyiaran tv dan radio.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar