Ini Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air

KBRN, Bengkulu : Belakangan ini dunia kembali dihebohkan dengan kemunculan kasus cacar monyet di sejumlah negara Eropa.

Meski jarang terjadi, cacar monyet menjadi salah satu penyakit berbahaya dan sangat menular yang perlu diwaspadai.

Sebab, monkey pox atau cacar monyet merupakan salah satu penyakit zoonosis. Artinya, cacar monyet tak hanya dapat ditularkan dari sesama hewan, tetapi juga dari hewan ke manusia.

Penyakit cacar monyet terlihat mirip dengan cacar air, namun nyatanya penyakit tersebut memiliki beberapa perbedaan.

Penasaran apa saja perbedaan cacar monyet dan cacar air? Yuk, simak penjelasannya di sini!   

Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air

Cacar monyet dan cacar air sekilas memiliki penampakan visual yang hampir sama. Meski begitu, ada beberapa perbedaan yang terletak pada jenis virus, gejala, dan perkembangan keduanya. 

Cacar monyet disebabkan oleh virus monkeypox, sedangkan cacar air disebabkan oleh virus Varicella-zoster. Penyakit cacar monyet biasanya menimbulkan beberapa gejala secara klinis.

Misalnya seperti demam, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis.

Secara umum, cacar monyet merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari dua hingga empat minggu. Namun, kasus yang parah juga dapat terjadi pada pengidapnya yang dapat berujung mengancam keselamatan jiwa.

Sementara itu, cacar air atau chickenpox, gejalanya dapat berupa ruam gatal dengan lepuh kecil berisi cairan.

Ruam melepuh tersebut akan muncul 10 hingga 21 hari setelah terpapar virus dan biasanya berlangsung sekitar lima hingga 10 hari.

Di samping itu, ada beberapa gejala lain yang mungkin muncul satu hingga dua hari sebelum kehadiran ruam lepuh pada kulit.

Misalnya seperti demam, sakit kepala, kehilangan selera makan, hingga kelelahan dan perasaan tidak sehat secara umum.

Sebagai penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus Varicella-zoster, cacar air sangatlah menular kepada orang yang belum pernah mengidapnya. Selain itu, mereka yang belum divaksin cacar juga sangat rentan untuk tertular.

Jadi, perbedaan yang paling utama antara kedua jenis cacar ini adalah gejalanya.

Cacar monyet menimbulkan pembengkakan kelenjar getah bening, sementara cacar air tidak.

Adakah Tindak Pencegahan yang Efektif?

Terdapat beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit cacar monyet, berikut di antaranya:Hindari kontak fisik (bersentuhan) dengan hewan yang berisiko menyebarkan penyakit cacar monyet.

Selain monyet, hewan pengerat seperti tupai dan tikus juga perlu dihindari.

Rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun usai melakukan berbagai aktivitas di luar ruangan.

Selain itu, kamu juga perlu mencuci tangan secara langsung setelah bersentuhan dengan pengidap cacar monyet atau setelah menyentuh hewan terutama yang berisiko membawa virus.

Menggunakan alat pelindung diri saat melakukan kontak langsung dengan pengidap cacar monyet, seperti sarung tangan.

Mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang agar imunitas tubuh dapat terjaga secara optimal.

Pastikan untuk mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan dengan tingkat kematangan yang optimal.

Memenuhi waktu istirahat yang optimal.

Sementara itu, pencegahan utama dari infeksi cacar air adalah dengan melakukan vaksinasi sedari dini. Sebab, orang dewasa yang belum menerima vaksin cacar air cenderung memiliki gejala yang lebih parah bila dirinya terinfeksi. 

Itulah perbedaan cacar monyet dan cacar air yang perlu diketahui.

Cacar monyet menimbulkan pembengkakan kelenjar getah bening, sementara cacar air tidak.

Oleh karena itu, jika kamu merasakan ruam pada kulit, sebaiknya segeralah memeriksakan diri ke dokter. Tujuannya agar penyebab ruam tersebut dapat diketahui secara pasti.

@halodoc

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar