Tantangan Jurnalis Perempuan di Era Digitalisasi

KBRN, Bengkulu: “Tidak ada ruang aman bagi Perempuan” pernyataan yang disampaikan Devisi Advokasi Kebijakan Yayasan Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak – PUPA, Grasia Renata Lingga tersebut, menjadi peringatan tersendiri bagi seluruh perempuan, terutama dari kalangan Jurnalis Perempuan saat melakukan pekerjaan mereka.

Hal itu disampaikannya dalam Dialog Interaktif RRI Bengkulu dengan Tema “Jurnalis Perempuan di Era Digitalisasi” Senin, (23/5/2022).

“Ancaman terhadap Perempuan dalam banyak kasus tindakan kekerasan dan pelecehan seksual baik verbal dan non verbal, secara langsung maupun tidak langsung, tidak jarang justru dilakukan orang terdekat mereka, yang idealnya menjadi pelindung atau orang terpercaya, baik Ayah, Paman, Kakek, Saudara, Tetangga, Teman atau peran-peran lainnya.” ujarnya.

Saat ini di era digitalisasi serangan dan resiko terhadap keamanan dan kenyamanan perempuan semakin tinggi, bahkan dari dulu sampai sekarang buruknya stigma terhadap perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual menjadikan kalangan perempuan tidak berani berbicara.

Melalui kesempatan itu, Grasia berharap perempuan berani untuk berbicara jika mengalami kekerasan atau pelecehan dalam bentuk apapun, serta juga mengamankan bukti-bukti untuk melaporkan tindakan pelaku sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu, Bidang Perempuan Aliansi Jurnalis Independen – AJI Bengkulu, Komi Kendy Herawatty menyampaikan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap Jurnalis Perempuan di Era Digitalisasi memang semakin banyak.

Dari dari catatan pihaknya hanya kisaran 80 persen saja yang berani menceritakan pengalamannya, “Diantara kasus yang mencuat diantaranya serangan digital di media sosial pribadi Jurnalis oleh pembaca, ketika yang bersangkutan memposting berita terkait kalangan minoritas yang mendapat reaksi negative. Atau Jurnalis yang mendapat pesan singkat berupa gambar, video maupun ajakan tidak senonoh dari narasumber,” tambah Komi.

Bahkan diantaranya juga menerima telepon atau pesan singkat bernada ancaman, dampak dari pekerjaan jurnalistik yang mereka lakukan. Tindakan terror dengan tujuan untuk menghentikan pemberitaan, menakut-nakuti atau justru menyasar Jurnalis Perempuan sebagai objek seksual, tidak hanya dari Narasumber, juga dari lingkup perusahaan media tempatnya bekerja, perlu mendapatkan perhatian serius semua pihak, ungkap Komi Kendy.

AJI Indonesia juga Bengkulu dikatakan Komi Kendy, ingin mendorong Jurnalis Perempuan lebih waspada dengan melakukan peningkatan kapasitas terhadap jurnalis, salah satunya membekali diri mereka dengan keamanan digital dan membuat pedomannya, serta mendorong perusahaan media agar mempunyai pedoman pencegahan dan penanganan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan. (Lns)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar