Dugaan Tindakan Medis Tak Tepat, Warga Kota Padang Jadi Buta

KBRN, Bengkulu : Salah seorang warga Kota Padang, Kecamatan Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Syamri, (55 tahun) mengalami buta pada mata kanannya.

Lantaran dari surat keterangan hasil pemeriksaan mata yang keluarkan Rumah Sakit M Hoesin Palembang menyatakan, mata kanannya tidak dapat melihat.

Syamri menceritakan awal mula sampai mata kanannya tidak dapat melihat lagi. Dimana pada Rabu, 24 Februari 2021 lalu sekira pukul 14.00 WIB, terjadi kecelakaan jatuh kesungai, dan ketika itu mata kanannya tertusuk ranting.

Sesaat kemudian, Syamri juga merasa kepala pusing, mual dan muntah. Lalu anaknya mencari tukang ojek, dan langsung dibawah menuju Puskemas Kota Padang lebih kurang pukul 15.00 WIB.

Lalu, masuk IGD Puskesmas yang ketika itu diberikan tindakan medis oleh 2 orang perawat, yang satunya berinisial Zn.

Sebelum luka pada mata kanannya dijahit, Syamri sempat bertanya selaku orang awam, bagaimana sebaiknya matanya. Sontak dari pengakuan Syamri, Zn menjawab, karena lukanya kecil dan tidak kena mata.

Bahkan dari pengakuan Syamri, Zn pada saat itu langsung membius, membersihkan dan menjahit luka dekat mata kanannya.

Setelah tindakan medis selesai, Syamri sempat bertanya kembali terkait bagaimana baiknya. Tapi lagi-lagi Zn menjawab, karena obat sudah diberikan, jadi baiknya pulang saja kerumah.

Pada Kamis, 25 Februari 2021, Syamri melakukan kontrol ke Puskesmas dengan menemui serta mendapatkan penanganan dari dokter, lalu diberikan obat, dan diminta pada Senin, untuk kontrol lagi.

Lalu siangnya, anak Syamri membayarkan uang dengan Zn sebesar Rp. 50.000,- yang disebutkan, untuk biaya benang jahit saja.

Pada Jumat, 26 Februari 2021, diakui Syamri, Zn sempat menanyakan kabar dirinya dengan anaknya, dan anaknya menanyakan kembali kepada Zn, bahwa mata kanan bapak-nya bertambah bengkak. Tapi dijawab Zn memang bengkak.

“Emang Bengkak Nyek E,” kata Zn dengan ucapan bahasa daerah.

Kemudian anaknya menyebutkan kembali kepada Zn bahwa bapak (Syamri,red) masih mual,muntah dan tidak mau makan, ditambah kepala pusing dan meminta agar diberikan infus.

Mendengar pertanyaan itu, Zn memberikan jawaban kepada anaknya, tidak apa-apa dan bawah saja ke puskesmas.

Setelah itu Syamri dibawah ke Puskesmas dan langsung masuk IGD, dengan tidak melapor lagi ke petugas pendaftaran. Lalu, dipasang infus serta diberikan obat melalui infus.

Dengan pemasangan infus dan diberikan obat, Syamri dibebankan biaya sebesar Rp. 60.000,- untuk bayar obat siang dan sebesar Rp. 30 ribu untuk obat malam.

Ironisnya, Syamri yang menjalani perawatan di IGD Puskesmas, di duga tanpa pengawasan perawat. Bahkan perawat yang berjaga pada siang, tidak ada dari jam 12.00 sampai 14.00 WIB dan pada sorenya, dirinya dipindah keruangan dan disuruh pilih bed (tempat tidur) yang sebelah kanan terlihat kotor, lalu ia menolak, dan memilih bed yang bersih, sebelah kiri pas depan pintu masuk.

“Karena saya protes keadaan tempat itu, ada yang menjawab dari luar, dengan menyebut ikuti lah prosedur,” ucapnya mengutip.

Pada Sabtu, 27 Februari 2021, Syamri menjelaskan, keadaan matanya belum membaik, dan bertambah bengkak.

Dengan itu dia disarankan membeli obat menurunkan bengkak, dengan menitipkan dengan orang yang membeli sayur ke Kota Lubuk Linggau, Provinsi Sumatera Selatan.

Setelah salep tersebut didapatkan, pada waktu sorenya, ada perawat yang menyarankan untuk ke Linggau menjalani perawatan lanjutan.

Pada Minggu, 28 Februari 2021, petugas Puskesmas melepaskan infus dan menyuruh ke Lubuk Linggau. Tapi, ketika anaknya mau mengambil rujukan, justru dijawab petugas puskesmas, bukan jam kerja dan ada yang menjawab tidak mengetahui diagnosa.

Berselang itu, pada Senin, 1 Maret 2021, Syamri berangkat sendiri ke rumah sakit Dr. Sobirin Lubuk Linggau tanpa surat rujukan dan langsung masuk IGD serta mendapat penanganan langsung oleh petugas IGD.

Ketika itu petugas IGD rumah sakit, sempat bertanya kenapa matanya bengkak dan dirinya menjawab karena terkena ranting kayu.

Lalu ditanya lagi sama petugas IGD, kenapa sudah membengkak dan lagi-lagi dijawab kejadiannya hari Rabu lalu dan selama ini dirinya menjalani perawatan di Puskesmas.

Pertanyaan lagi, mengapa keras dan apakah mata bapak selama ini ada kelainan atau tidak, dan dijawab Syamri tidak ada kelainan, dan petugas menyebutkan bahwa ada benda yang masih tersimpan di dalam daging.

Dengan itu, anak Syamri diminta langsung mendaftarnya untuk berobat ke poli, namun ditolak karena tidak ada rujukan. Tapi petugas rumah sakit menyarankan agar meminta rujukan secara online dan setelah diurus didapatkan dari pihak puskesmas pada sekira 11.00 WIB dan langsung ke Poli untuk diperiksa oleh dokter spesialis mata dan disuruh rawat inap.

Dikatakan Syamri, rawat inap yang dijalaninya dari tanggal 1 sampai 14 Maret untuk mengempeskan bengkak di bagian mata dan disuruh kontrol lagi pada tanggal 22 Maret 2021. Tapi setelah kontrol, kembali disuruh rawat inap untuk dioperasi pada tanggal 23 Maret 2021 untuk membuang kayu yang ada dirongga mata dan pada tanggal 25 Maret, dirinya keluar dari rumah sakit dan pulang kerumah.

“Pada tanggal 29 Maret 2021, anak saya menunjukkan barang bukti kayu yang ada di rongga mata bagian kanan yang sudah dioperasi, ke petugas puskesmas dan dokter. Lalu dokter memanggil Zn dan pimpinan puskesmas juga datang. Lalu ketika itu menjawab saya mau minta mata ini sembuh dan dari pihak puskesmas belum ada solusi yang tepat,” sesalnya.

Beberapa minggu kemudian, Syamri dipanggil lagi dan ditanya ada kendala apa. Lalu dirinya menjawab tidak ada ongkos untuk berobat, dan maunya mata ini sembuh. Tapi lagi-lagi saat itu masih tidak ada solusinya.

Selanjutnya menanyakan lagi dengan Kepala puskesmas terkait bagaimana dirinya, karena mau berobat, dan tidak ada ongkos, karena ia mau matanya sembuh. Tapi lag-lagi tetap tidak ada respon dari pihak puskesmas dan Zn.

“Pada tanggal 21 April 2021, saya kontrol kepoli syaraf disarankan oleh dokter mata ke poli syaraf untuk di CT Scan di Rumah Sakit AR Bunda, dikarenakan rumah sakit Sobirin tidak ada alatnya. Dua hari kemudian, saya berobat kerumah sakit AR Bunda, namun untuk minggu pertama berobat hanya diberi obat, dan pada minggu depan control lagi, karena keluhan di bagian kepala masih terasa berat, dan akhirnya baru di suruh dokter CT Scan pada tanggal 30 April 2021. Berselang satu minggu, saya control lagi kepoli syaraf dan dokter yang bertugas baru mengdiagnosa bola mata saya mengalami penurunan. Pada minggu depannya lagi, control dengan dokter syaraf yang mengdiagnosa bola mata saya mengalami penurunan. Lalu kemudian dikasih saran untuk dirujuk ke Rumah Sakit RSMH Palembang, untuk melakukan operasi pengangkatan bola mata dan operasi syaraf mata,” bebernya.

Mengacu hasil diagnosa itu, Syamri yang sempat meminta lurah memediasi dengan pihak puskesmas, tetap tidak ada respon, sehingga pada tanggal 2 Juni 2021, melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Dinkes dan sempat dimediasi dengan saran bisa membantu mengurus dana bantuan sosial (bansos) untuk akomodasi, transportasi dan makan ketika berobat ke Palembang.

“Pada tanggal 22 Agustus 2021, saya berangkat ke Palembang untuk melakukan operasi mata dan syaraf mata. Setelah lebih kurang 5 hari saya mengunggu baru bisa dilakukan operasi mata dan pada tanggal 31 Agustus 2021 bisa pulang, tapi control kembali pada 13 September 2021,” ujarnya.

Lebih lanjut ditambahkan, dari control pada tanggal 13 September 2021 ke Rumah Sakit M Hoesen melepas jahitan. Tapi untuk melakukan operasi syaraf mata tidak bisa dilakukan, karena sudah membusuk akibat dari perawatan di Puskesmas selama 4 hari.

“Dari surat keterangan hasil pemeriksaan mata dokter saat itu, pada mata kanan saya sudah tidak dapat melihat lagi,” tutup Syamri.  

Sementara hingga berita ini, diturunkan belum diperoleh keterangan resmi dari pihak Puskesmas Kota Padang, dan Zn selaku pihak yang pertama kali melakukan tindakan medis kepada Syamri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar