Bahasa Daerah Nasal Dikhawatirkan Akan Hilang

Diskusi bersama lembaga adat Nasal
Lukman, Ketua Laku Desa Tanjung Betuah Nasal

KBRN, Bintuhan: Kekhawatiran pakar budaya Kecamatan Nasal yang tergabung dalam anggota Lembaga Adat Kaur (Laku), Lukman, atas semakin banyaknya generasi muda yang sudah tidak bisa lagi berbahasa daerah asli Nasal.

Terlebih dengan semakin banyak yang tidak menggunakan, dikhawatirkan 10 tahun yang akan datang bahasa daerah ini akan hilang.

"Sudah banyak sekali yang tidak paham, walaupun orang tuanya asli daerah Nasal, tapi bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa Kaur atau istilah warga Nasal bahasa Bayuran," jelasnya pada Kamis, (29/7/2021).

Lukman mengaku, sampai saat ini belum ada satupun orang yang membukukan kata per-kata dari bahasa daerah Nasal ini, walaupun dua tahun yang lalu, pernah ada ahli bahasa dunia dari Amerika Serikat yang sudah mencatatnya. Tetapi sejak virus corona melanda, sampai saat ini tidak ada informasi kelanjutannya.

"Orang Amerika sudah kesini mencatat kata- kata Bahasa Nasal, karena kata mereka kalaupun nanti punah, Bahasa Nasal sudah tercatat di bahasa dunia," jelasnya.

Lanjut Lukman, semoga suatu saat nanti ada usaha dari pemangku kebijakan supaya bahasa daerah Nasal, bisa diajarkan kepada generasi muda.

"Mungkin suatu saat bisa masuk dimata pelajaran muatan lokal, jadi anak-anak sedari dini sudah diajarkan bahasa nasal biar tidak punah," harapnya.

Untuk diketahui, daerah Kecamatan Nasal ini sehari-harinya kebanyakan menggunakan 3 bahasa daerah, yakni, Bahasa Kaur, Bahasa Nasal dan Bahasa Semende, ditambah dengan bahasa-bahasa daerah pendatang lainnya.

Untuk itu lanjut Lukman dengan banyaknya bahasa daerah dari suku lain, bahasa asli daerah Nasal harusnya masih tetap eksis dipakai sehari-hari oleh penduduk asli Nasal.

"Orang asli Nasal pakai bahasa Nasal harusnya, karena kalau tidak kita siapa lagi, hilang nanti lama-lama," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00