Berwisata ke Air Terjun Sengkuang, Patuhi Protokol Kesehatan

KBRN, Bengkulu : Adanya wabah pandemi Corona Virus Disease (Covid 19), telah berdampak pada perkembangan sektor pariwisata.

Hal itu ditandai, tingkat kunjungan wisatawan, baik berasal dalam daerah maupun dari luar ke objek wisata alam Air Terjun Sengkuang, Kabupaten Kepahiang, jauh menurun ketimbang sebelumnya.

Apalagi objek wisata ini, sejak Maret lalu sempat ditutup sementara waktu untuk umum. Tetapi mulai bulan ini dibuka kembali.

Hanya saja sesuai dengan petunjuk yang diterima dari Dinas Pariwisata (Dispar) setempat, dalam menuju tatanan kehidupan baru ini tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid 19.

“Kita sebagai pengelola objek wisata Air Terjun Sengkuang ini, telah membuat spanduk untuk mengingatkan para pengunjung, agar mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan mengatur jarak,” ungkap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Air Terjun Sengkuang, Kabupaten Kepahiang, Tardi, ketika diwawancarai rri.co.id, pada Sabtu, (11/7/2020).

Menurut Tardi, meski tingkat kunjungan wisatawan ditengah pandemi ini, masih sepi. Hanya saja, sedikit ramai oleh pengunjung, terlihat pada hari libur, khususnya Sabtu dan Minggu. Sehingga pihaknya juga sempat kewalahan untuk mengingatkan pengunjung agar mengindahkan protokol kesehatan.

Dimana hal yang kebanyakan masih dilanggar para pengunjung, mandi dengan tanpa mengindahkan jaga jarak.

“Masih rendahnya kesadaran dari sebagian pengunjung yang datang ke objek wisata alam ini, kita mau tidak mau menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing. Semoga saja tidak sampai terjangkit virus tersebut, dengan dibekali imun yang kuat. Mengingat berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk himbauan langsung dari mulut ke mulut secara langsung.

Dibagian lain, ia juga mengharapkan, lantaran objek wisata Air Terjun Sengkuang ini masih baru dibuka dan diketahui oleh khalayak ramai, tidak dipungkiri sarana dan prasarana yang ada masih terbatas. Sehingga memang masih perlu perhatian, tidak saja dari dinas teknis, tetapi juga aparat pemerintahan desa selaku pemilik wilayahnya, untuk dapat membangunnya.

“Sekarang fasilitas penunjang objek wisata ini baru seadanya, seperti ruang ganti pakaian pengunjung setelah mandi perlu dibangun lebih representatif lagi. Makanya diharapkan, dana desa (DD) bisa digunakan untuk membangun fasilitas penunjang, karena objek wisata ini memberikan sumbangsih pendapatan bagi desa khususnya, dan juga daerah Kabupaten Kepahiang umumnya,” tutup Tardi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00