Kata Mereka Tentang Tabut 2022 di Kota Bengkulu

Salah satu Tabut Sakral dalam arak-arakan Tabut Tebuang

KBRN, Bengkulu: Fakum selama dua tahun terakhir karena Pandemi Covid 19, menjadikan Festival Tabut tahun ini sangat dinantikan masyarakat Bengkulu tidak hanya di Kota namun juga Kabupaten di Provinsi Bengkulu serta Daerah lainnya yang ingin menyaksikan kebudayaan tersebut.

Antusias tersebut terlihat dari lautan manusia yang memadati dua lokasi selama pelaksanaan festival tabut mulai dari tanggal 1 – 10 Muharam 1444 Hijriah, baik di Sport Center dengan tajuk Festival Muharam maupun Festival Tabut yang dipusatkan di Balai Semarak Bengkulu.

“Saya baru pertama kali nonton Tabut, karena sebelumnya tinggal Pino Raya (Bengkulu Selatan). Nah sekarang kuliah di Bengkulu jadi bisa nonton Tabut,” ungkap Erliana, Minggu (7/8/2022) yang juga berharap untuk pelaksanaan festival selanjutnya bisa diatur lebih baik lagi sehingga tidak terjadi desak-desakan ketika masyarakat ingin menonton rangkaian festival disamping juga perlu peningkatan pengamanan karena dengan ramainya pengunjung dianggap rawan terjadi aksi pencopetan.   

Sementara itu, Echy salah seorang pengunjung di kawasan jalan S. Parman yang ingin melihat arak-arakan pembuangan Tabut (Tabut Tebuang) mengungapkan rasa senangnya karena setelah dua tahun tidak melihat arak-arakan Tabut karena Covid 19.

"Senang karena akhirnya Tabut ada lagi tahun ini, setelah dua tahun kemaren menghilang. Tapi kurang seru karena penataannya yang berbeda dan promosinya kurang kepada masyarakat," ungkap Echy, Senin (8/8/2022) yang melihat arak-arakan Tabut Tebuang kemarin hanya diikuti tujuh bangunan Tabut Sakral.

Dengan tempat pelaksanaan Festival Tabut di dua tempat yang berbeda, juga menyebabkan konsentrasi kunjungan masyarakat terpecah demikian dengan para penjual yang mencari penghasilan melalui momen budaya tahunan tersebut.

Ketika ditanya kepada beberapa masyarakat yang menonton Tabut tentang Festival Tabut tahun ini memang banyak perbedaan yang dirasakan dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka juga berharap, kemeriahan Tabut yang sempat ditampilkan pada dua tahun sebelumnya tanpa ada pemisahan tempat acara, serta arak-arakan yang lebih meriah dengan banyak bangunan tabut tidak hanya sakral namun juga kreasi bisa turut diarak bersamaan ketika melintasi jalur protokol menuju Padang Karbela.

“Tabut yang diarak kemarin cuma sedikit, padahal sudah menunggu lama disini dari jam 10.00 WIB. Yang lewat cuma beberapa, beda seperti yang dulu.” ungkap Putri, Warga Pagar Dewa yang juga turut menyaksikan arak-arakan Tabut Tebuang.     

Melestarikan Budaya dan Tradisi di Bengkulu menjadi bagian penting yang harus tetap dijaga oleh semua element baik Pemerintah atau Masyarakat itu sendiri, meskipun sempat fakum beberapa tahun lalu. Semoga tahun ini menjadi awal semangat untuk terus membuat berbagai event besar bertajuk tradisi yang ada di Bengkulu dan nanti secara tidak langsung akan berdampak pada prekonomian masyarakat Bengkulu. (Fp/Lns)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar