Habitat Bunga Rafflesia yang Kian Terancam

KBRN, Bengkulu: Salah satu habitat terbesar bunga langka Rafflesia dan bunga bangkai di propinsi Bengkulu adalah kabupaten Bengkulu tengah. Dikawasan tersebut sangat sering atau bahkan selalu ditemukan adanya bunga langka yang tumbuh dan mekar.

Namun intensitas mekar bunga langka semakin tahun semakin berkurang. Pemerhati puspa Langka Bengkulu tengah dari komunitas peduli Puspa langka (KPPL) Ibnu mengatakan, salah satu sebab menurunnya kuantitas mekar bunga Rafflesia adalah terus berkurangnya kawasan hutan yang menjadi lokasi tumbuh  bunga Rafflesia.

Perambahan hutan hingga pengrusakan habitat bunga langka Rafflessia menjadi hal yang sering dihadapi oleh para pecinta flora langka. Ia mengatakan, sejumlah kasus pengrusakan terjadi di Bengkulu Tengah, bahkan pengrusakan bunga langka dilakukan dengan sengaja.

Ibnu menyebut, dibandingkan jumlah pelestari lebih banyak jumlah pihak yang merusak habitat bunga langka Rafflessia. Dengan tujuan untuk kepentingan pribadi ataupun korporasi. 

Sementara pihaknya tak memiliki daya untuk mencegah hal itu terjadi, karena pecinta bunga langka ini hanyalah masyarakat sipil biasa. 

"kami ini hanya menjaga dilokasi yang terjangkau, tapi didalam kawasan hutan itu sebenarnya banyak lagi habitat bunga Raflesia yang ternyata dirusak, jangankan didalam, didekat akses jalan saja ada yang rusak" Ungkapnya.

Organisasi pemerhati puspa langka, seperti KPPL yang kerap menjadi pihak yang mempublikasikan adanya bunga mekar, ungkap Ibnu adalah kelompok yang dimotori masyarakat  yang cinta terhadap bunga langka, itupun muncul dari inisiatif para pemuda pecinta lingkungan.

Pihaknya sangat mengharapkan agar ada ketegasan dari pemerintah agar lahan hutan yang semestinya dilindungi tidak dibabat oleh oknum atau sekelompok orang. Sehingga habitat tumbuh raflesia ikut mengalami kerusakan.

Saat ini habitat Rafflesia terbilang dibiarkan tumbuh begitu saja, sama sekali tak ada upaya untuk melakukan penyelamatan yang lebih terencana.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar