Melestarikan Budaya Kebek Palak Asli Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Kebek palak Bengkulu atau ikat kepala kini menjadi tradisi yang kembali bangkit setelah mati suri selama puluhan tahun silam. Kebek palak oleh para pemangku adat di Bengkulu dan 10 Rajo Penghulu kembali disetujui sebagai ciri khas dari kota Bengkulu. Meski awalnya sempat menuai pro dan kontra namun kini kebek palak Bengkulu kian terlihat digunakan oleh tokoh masyarakat, tokoh pemerintahan dan anak muda Bengkulu.Salah seorang diantaranya adalah Rian Hidayat pemuda Bengkulu ini gencar mensosialisasikan penggunaan Kebek Palak, tak hanya ditingkat lokal Bengkulu namun hingga ke tingkat nasional, bahkan menteri.

Rian mengatakan menurut sejarah, dulu masyarakat Bengkulu memang memiliki budaya memakai ikat kepala yang terbuat dari kain, kini ikat kepala itu kembali dipopulerkan sekaligus memanfaatkan potensi kain batik besurek Bengkulu sebagai bahan utama pembuatan Kbek Palak.

"pelestarian penggunaan kebek palak ini bukan tiba tiba, tapi panjang prosesnya, lewat sidang adat dulu, musyawarah adat, masukan masukan tokoh, Alhamdulillah kini kebek palak kembali jadi tradisi Bengkulu, sekaligus mengoptimalkan penggunaan batuk Bengkulu, batik Besurek" ungkap Rian kepada RRI (26/11/2021).

Ungkap Rian kebek palak adalah tradisi yang patut dilestarikan, karena hampir semua wilayah nusantara memilki ciri khas hiasan kepala. Cara melipat dan mengikat kebek palak pun memilki aturan, terdapat tiga lipatan, pertama menandakan tali tiga spilin, tungku tiga sejerangan, kedua ada lupis atau segitiga diatas yang bermakna kembali ke aturan adat, bersendi sarak, sarak bersandi kitabullah. Terakhir ketiga yang sedikit menunduk disebuti sigur padi, artinya semakin berisi semakin merunduk.

Pemakaian di kepala juga menjadi simbol  bila adat istiadat harus dijunjung tinggi.Ia mengharapkan agar pemuda Bengkulu ikut serta menggunakan kebek palak dan bangga dalam melestarikan tradisi daerah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar