Pasangan Kekasih Pelaku Aborsi Terancam Bui Seumur Hidup

BENGKULU, KBRN: Polres Bengkulu terus mendalami perkara aborsi yang melibatkan sepasang kekasih, yakni YT (18) dan WW (18). Keduanya kini resmi sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal berlapis pasca meninggalnya si anak bayi.

Kasat Reskrim Polres Bengkulu AKP Welliwanto Malau kepada RRI, Rabu (29/6), menjelaskan, berdasarkan hasil visum, anak bayi perempuan yang dilahirkan itu meninggal dunia lantaran ada benturan saat dilahirkan di dalam kamar mandi tanpa pertolongan.

"Anak bayi perempuan bertahan hidup 12 jam diinkubator sebelum akhirnya meninggal dunia. Hasil visum, ada benturan di kepala. Mungkin vartusnya di kamar mandi tanpa ada pertolongan. Sempat dicuci oleh ibu pelaku di dalam bak. Itu sebab awal bayi anak meninggal dunia," jelas AKP Malau.

AKP Malau mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku perempuan, diketahui memang ada niat atau rencana melakukan aborsi tersebut. Pemicunya adalah karena rasa malu lantaran pelaku belum menikah ditambah lagi statusnya yang masih mahasiswi.

"Jadi karena kesepakatan (perempuan dan pria) walau awalnya si perempuan tak mau. Tapi karena dia juga mau kuliah namun perut terus membesar makanya terjadi. Dia sendiri sudah empat bulan tak masuk kuliah. Keluarga kedua belah pihak juga tidak tahu. Si pria baru tamat SMA. Ide awal dari laki-laki karena tekanan si perempuan karena perutnya terus membesar," terang Malau.

Jika sebelumnya polisi menjerat pelaku dengan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, kini keduanya dijerat pula dengan Pasal UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan junto pasal Pasal 340 KUHP karena ada unsur perencanaan.

Polres Bengkulu sebelumnya melakukan gelar perkara terkait tindak pidana aborsi yang dilakukan sepasang kekasih pada Minggu (26/6/2022). Pada Senin (27/6/2022), pelaku TY ditetapkan sebagai tersangka terlebih dahulu.

Adapun WW ditetapkan sebagai tersangka setelah pihak kepolisian melakukan gelar perkara lanjutan pada Senin (27/6/2022) malam. 

"Sepasang kekasih ini telah kita tetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pasal 194 juncto 75 ayat 2 UU kesehatan dengan ancaman penjara 20 tahun," ujar Kasat Reskrim Polres Bengkulu, AKP Welliwanto Malau. 

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, WW belum ditahan karena kondisi kesehatannya yang belum membaik. Ia masih dirawat intensif di RS Bhayangkara.

Sebelumnya, bayi hasil aborsi sepasang kekasih di Kota Bengkulu meninggal dunia pada Senin (27/6/2022) pagi usai dilahirkan pada Minggu (26/5/2022) di toilet salah satu rumah sakit di Kota Bengkulu. 

Bayi itu pun saat ini telah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Kelurahan Rawa Makmur didekat lokasi tempat tinggal dari orang tua tersangka laki-laki TY.

Kedua remaja itu sendiri diamankan pihak kepolisian pada Minggu (26/6/2022) usai melakukan tindakan aborsi janin berumur 7 bulan di salah satu losmen di Kota Bengkulu.

Diketahui TY (18) merupakan pemuda asal Desa Muara Danau Kecamatan Seginim, Bengkulu Selatan. Adapun WW (18) asal Desa Gunung Bantan, Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma.

Keduanya diamankan Polres Bengkulu pada Minggu (26/6/2022) sore di rumah sakit Rafflesia Kota Bengkulu. Kejadian ini bermula, pada Sabtu (25/6/2022) sekira pukul 16.00 Wib. Keduanya melakukan aborsi di salah satu losmen yang ada di Kota Bengkulu. 

Kandungan terduga pelaku WW itu pun sudah berusia tujuh bulan. Bermodalkan obat-obatan penggugur kandungan, sekira pukul 21.00 Wib, WW dibantu TY pun meminun 3 butir obat dengan cara satu butir diminum langsung dan dua butir diletakkan di bawah lidah. 

Setelah menginap di losmen tersebut, keduanya pun pulang ke kos-kosan WW yang berada di Kelurahan Talang Kering Kecamatan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. 

Namun, akibat meminum obat penggugur tersebut, WW merasakan kontraksi dan pendarahan dan segera dibawa ke RS Rafflesia Kota Bengkulu untuk mendapatkan pengobatan. 

Dari keterangan dokter, WW pergi ke toilet dengan alasan ingin buang air kecil, setelah cukup lama di dalam toilet, WW mengaku kepada dokter bahwa dirinya telah melahirkan seorang anak di dalam toilet tersebut. 

Buru Pemasok Obat

Kapolres Bengkulu AKBP Andy Dady mengatakan, proses hukum terhadap para pelaku akan terus berjalan karena aborsi memang tidak dibenarkan secara hukum. Selain itu, pihaknya juga tengah mengembangkan penyidikan terkait obat yang digunakan pelaku untuk aborsi.

"Kita akan kembangkan jaringan penjual obatnya yang dibeli secara online oleh si ibu ini. Kita akan kejar jaringannya. Kok bisa masuk Bengkulu. Termasuk juga memproses secara hukum si laki-lakinya," ujar Kapolres.

Meski saat ini si ibu masih dalam kondisi labil, Kapolres memastikan tidak akan melakukan proses pemeriksaan kejiwaan. Baik kepada perempuan maupun si pria.

"Karena menurut penilaian kami, aborsi ini dilakukan secara sadar. Yang akan kita kembangkan apakah tindakan si ibu ini karena dibawah tekanan atau memang menjadi niatan berdua untuk menutupi aib," jelasnya.

Kapolres mengatakan, semestinya kedua pelaku tidak melakukan tindakan aborsi. Sebab selain melanggar hukum, aborsi juga tak dibenarkan oleh ajaran agama karena sudah menyangkut soal nyawa manusia.

Terkait losmen dimana pelaku melakukan tindakan aborsi, Kapolres mengatakan akan melihat hasil pemeriksaan lebih lanjut. Menurutnya, keberadaan losmen sendiri tidak dalam domain Kepolisian, tetapi juga melibatkan pihak lain yang berwenang terkait perizinan.

"Tidak bisa kita justifikasi bahwa losmen itu menjadi tempat yang memberikan ruang bagi orang melakukan perbuatan aborsi. Karena bisa saja orang yang menyalahgunakan losmen itu. Jadi nanti kita lihat dulu," ujarnya.

Lebih lanjut Kapolres mengingatkan beberapa hal kepada masyarakat, terutama orang tua, agar kejadian serupa tidak terulang. Pertama, bahwa pendalaman aqidah atau keimanan terutama kepada anak-anak yang belum dewasa itu adalah tanggung jawab orang tua. 

Kedua, pengawasan orang tua kepada anak harus lebih ketat. Apalagi kemajuan teknologi informasi saat ini dimana media internet bisa sangat mudah dan bebas diakses oleh siapa saja. 

"Orang tua harus setiap saat awasi anak agar tidak bebas mengakses situs-situs atau konten terlarang. Kalau pengawasan kurang, maka anak akan leluasa. Karena kita tidak peduli, kesempatan itu datang dan terus berulang sampai mempraktikkan. Dan ketika kejadian, si anak tidak mampu menyikapinya sehingga melakukan perbuatan yang tak diinginkan," kata Kapolres.

Demi Kuliah

Kepada RRI, pelaku laki-laki mengaku sudah menjalin hubungan selama lebih dua tahun. Hubungan tersebut katanya juga sudah diketahui orang tua. Tindakan nekat aborsi sendiri dilakukan demi menyelamatkan studi pelaku perempuan.

Tak Curiga

Kasriadi alias Ujang, petugas pengawas losmen, mengaku tidak menaruh curiga saat kedua pelaku datang dan memesan kamar untuk menginap. Mereka, kata Ujang, tiba sekitar pukul 5 sore dan baru keluar atau meninggalkan kamar sekitar pukul 9 pagi keesokan harinya.

"Waktu datang dia cuma bawa minuman. Kami tidak melihat dia bawa obat. Kami kan tidak memeriksa. Waktu kami periksa kamar juga tak menemukan apa-apa kecuali bekas muntah," ujarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar