Edar Bibit Sawit Diduga Aspal, Seorang  Warga Seluma dan Pasutri Asal Riau Tersangka

BENGKULU, KBRN: Program replanting atau peremajaan tanaman sawit yang dicanangkan pemerintah rupanya dimanfaatkan untuk mengeruk keutungan pribadi sejumlah oknum di wilayah Kabupaten Seluma. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara peredaran kecambah sawit tak bersertifikat.

Direktur Direktorat Kriminal Khusus Kombes Pol Aries Andi didampingi Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno saat konferensi pers, Selasa (19/10), mengungkapkan, tersangka masing-,masing berinisial Mu alias Dian dan pasangan suami istri, HH dan IS. Ketiganya berdomisili di Pekan Baru, Riau.

Aries menjelaskan, ketiga tersangka diduga telah memperjual belikan bibit berupa kecambah sawit kepada belasan desa di Kabupaten Seluma yang memprogramkan bantuan replanting tanaman sawit melalui anggaran Dana Desa.

Untuk setiap bibit tersangka memberikan harga Rp 10 ribu. Selain itu, untuk meyakinkan, bibit yang dijual diberi merek BBKS serta menyertakan sertifikat yang seolah-olah menjelaskan keunggulan bibit sawitnya.

Kecurigaan polisi muncul setelah mengetahui bahwa sudah ada pihak atau agen yang ditunjuk menyalurkan bibit sawit hasil produksi PPKS Medan--salah satu anak perusahaan BUMN, di Bengkulu.

"Jadi dari kegiatan peremajaan tanaman sawit di beberapa desa di salah satu kecamatan di Seluma kita mendapat informasi akan ada distributor yang menawarkan bibit sawit kepada desa-desa tersebut," kata Aries.

Berbekal informasi itu, pihaknya lalu melakukan penyelidikan sampai dengan penangkapan. Hasilnya, ketiga tersangka menawarkan bibit sawit yang dipasang merek PPKS.

Bibit atau kecambah sawit yang dijual tersangka diduga didatangkan dari Kabupaten Kisaran, Sumatera Utara. Bibit itu lalu dikemas di Pekan Baru sebelum diangkut ke Bengkulu.

Aries menambahkan, karena menggunakan anggaran dana desa, pihaknya juga telah meminta Inspektorat Daerah Kabupaten Seluma untuk mengaudit penggunaan dana desa terkait program peremajaan sawit di beberapa desa itu.

"Informasi awal, dari harga Rp 10 ribu per bibit itu dengan perrincian harga 2.500, keuntungan penjual 3.500 dan 4.000 berdasar keterangan penjual adalah untuk kepala desa," ungkap Aries.

Dengan kondisi dimana petani atau pembeli tidak tahu asal usul bibit sawitnya, kata Aries, maka kerugiaan yang bisa terjadi tak hanya biaya, tapi juga waktu. "Bayangkan kalau sudah ditanam lalu setelah tiga tahun malah tidak berbuah. Kerugiannya tak cuma biaya, tapi juga waktu," tegas Aries.

Kades Sudah Survei

Di sisi lain, jumlah bibit sawit diduga palsu ini sudah beredar di empat desa dengan jumlah mencapai ribuan. Bibit bisa sampai ke masyarakat karena mereka diduga tidak mengetahui jika bibit bantuan yang diterima adalah palsu.

Menurut polisi, sebelum bibit disalurkan, dalam proses pengadaan bibit, sejumlah kepala desa sendiri sudah pernah melakukan survei langsung ke PPKS Medan. Sehingga mereka sudah tahu mana yang asli dan mana yang palsu.

Hanya saja, lantaran proses pengadaan bibit sawit harus melalui tahapan dan prosedur, diduga proses pembelian bibit sawit tidak jadi ke PPKS Medan. Melainkan kepada para tersangka. "Di sinilah perbuatan melawan hukumnya," kata penyidik.

Atas perbuatannya, para tersangka ini dijerat pasa berlapis, yakni pasal 115 Jo pasal 30 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2019 Tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan dan Pasal 8 ayat (1) Pasal 62 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana 5 tahun penjara.

Ada Tahapan

Rusbandi, mewakili mitra kerja sama pembibitan PPKS, mengatakan untuk pengadaan bibit tidak bisa sembarangan. Harus ada permohonan dulu. Permohonan ini setidaknya disertai identitas yang jelas dan dimana bibit akan ditanam. Kalau itu sudah klir baru diproses.

"Setelah melalui proses itu baru nantinya dijadwalkan kapan penyediaannya. Jadi tidak bisa hari ini pesan langsung diberikan," kata Rusbandi. Ia menyebut, harga bibit sendiri adalah Rp 8.000 jika dibeli langsung ke PPKS Medan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00