Imbas Melarikan Diri, 3 Anak Didik LPKA Diisolasi

BENGKULU, KBRN: Tiga dari empat anak didik di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LKPA) Kelas II Bengkulu yang kabur pada Senin (26/7), akhirnya berhasil ditangkap dan dikembalikan ke LPKA Bengkulu di Kelurahan Bentiring. Mereka adalah Ar, FC, dan AA. 

Sementara seorang lagi yang masih dicari berinisial Ba. Ba diduga kembali ke rumahnya di wilayah Kabupaten Lebong. 

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Bengkulu Ika Yusanti mengatakan, setelah dikembalikan ke LPKA, ketiga anak didik itu kini tengah menjalani isolasi. Itu dilakukan untuk memastikan mereka tidak terpapar Covid-19 setelah diduga berjumpa dengan banyak orang setelah kabur dari LPKA.

"Mereka di kamar masing-masing isolasi selama 14 hari ke depan. Sebab mereka sudah bertemu banyak orang. Mereka ditemukan di beberapa titik. Ada yang di pasar. Ada juga yang kita jemput ke rumah orang tuanya," jelas Ika saat menggelar konferensi pers, Rabu (28/7) siang.

Ika mengatakan, keberhasilan mengembalikan anak didik itu berkar kerja sama dan sinergisitas lembaganya dengan pihak kepolisian. "Tim gabungan Kemenkumham, LPKA, Lapas Kelas IIA dan Rutan Kelas IIb Bengkulu sedang dalam proses pencarian terhadap satu anak yang melarikan diri. Kami mohon bantuan dan dukungan masyarakat dan rekan-rekan media," kata Ika.

Lebih lanjut, Ika memaparkan setelah peristiwa itu Kemenkumham Bengkulu  sudah melakukan evaluasi dan menetapkan tiga langkah strategis supaya peristiwa serupa tidak terulang lagi.

Langkah strategis itu di antaranya membenahi  SDM, baik pejabat maupun tataran pelaksana yang diawali dengan assesment; memperkuat sistem pengawasan (deteksi dini dan mekanisme pengawasan/SOP) yang disertai dengan bimtek dan penguatan pegawai; dan melengkapi sarpras pendukung di antaranya CCTV.

Menurutnya, tiga langkah strategis itu penting dilakukan mengingat LPKA berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan/Rumah Tahanan lainnya. Perbedaan yang sangat prinsip dapat dilihat dari pola bangunan LPKA yang sesuai amanat undang-undang harus didesign ramah anak. Seperti pagar pembatas dan kamar yang ramah anak serta tembok luar tanpa kawat berduri.

Diakui Ika, pola pengamanan di rutan, lapas termasuk pengawasan di LPKA sendiri, masih punya kelemahan dan kekurangan. Dari sisi SDM, kata dia, jumlah petugas dan warga binaan tidak sebanding. Sementara dari sisi sarpras, masih sangat terbatas.

"Kami akui kami lemah. Pertama dari rasio petugas yang tidak sebanding dengan jumlah penghuni. Jumlah anak. Lalu, sarpras yang kurang mendukung dalam tugas pengawasan. Memang masih banyak hal-hal yang harus kami penuhi," ujar Ika.

Dikatakan Ika, pihaknya juga sudah mulai memeriksa secara intens pegawai LPKA yang bertugas saat kejadian. Tujuannya, untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian atau tidak. "Hasil penyidikan akan kami laporkan kepada Dirjen Pemasyarakatan. Jika terdapat kelalaian dari pegawai pastinya akan ada sanski sesuai ketentuan yang berlaku," kata Ika.

Menurut Ika, untuk menggali keterangan dari anak didik itu akan dilakukan setelah mereka selesai isolasi. Ia memastikan teknis dan prosesnya tidak seperti dalam pemeriksaan narapidana dewasa. 

"Karena pelakunya anak-anak pastinya penyidikan harus dengan humanis dan tetap menjunjung tinggi hak-hak anak demi kebaikan anak tersebut, dengan pola komunikasi usia anak," jelas Ika.

Bagi anak yang masih DPO, kata Ika, pihaknya bekerja sama dengan Polsek Muara Bangkahulu. Selain melakukan pengejaran, kerja sama juga dilakukan untuk menyidik tentang mengapa dan bagaimana anak-anak itu melarikan diri dari LPKA Kelas II Bengkulu. Termasuk juga di dalamnya pihak-pihak yang terkait yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu.

Lebih lanjut Ika menjelaskan pengamanan dan pengawasan, baik di Rutan maupun Lapas, memang tidak melibatkan atau menyertakan aparat dari kepolisian. Aparat kepolisian, kata Ika, punya beban kerja yang berbeda. Fokusnya lebih ke kamtibmas, lebih banyak ke masyarakat. 

"Sinergisitas kita adalah di sistem pengawasan dan pengamanan. Misalnya di kegiatan patroli sanggam. Jadi Polsek Muara Bangkahulu, timnya Pak Husnul selalu datang saat kegiatan ini," imbuh Ika.

Terkait dukungan untuk penangkapan anak didik yang belum kembali, Direskrimum Polda Bengkulu Kombes Pol Teddy Suhendyawan mengatakan ada kemungkinan dilakukan dengan jajaran terdekat yakni Polres Bengkulu, Bengkulu Utara, Rejang Lebong dan Lebong. "Kalau ke Polda belum," imbuhnya.

Sementara itu soal pengamanan di Lapas atau Rutan, Kombes Pol Teddy Suhendyawan Syarif mengatakan, pihaknya tidak terlibat secara langsung. Kepolisian bisa terlibat jika ada permintaan secara resmi dari Kemenkumham. "Karena kan administrasinya beda. Idealnya kita disurati karena nanti terkait pertanggungjawaban. Jadi dampaknya sistemik," jelas Teddy.

Sementara itu, Kapolsek Muara Bangkahulu, AKP. Chusnul Komar, S.Ik menjelaskan, pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini dan mencari keberadaan anak berinisial Ba yang belum ditemukan. Menurut Husnul, dari hasil analisa sementara, anak tersebut diduga kembali ke rumahnya di Kabupaten Lebong. 

"Kita meminta dukungan masyarakat agar dapat membackup petugas kepolisian untuk memberikan informasi keberadaaan anak tersebut," tandas Husnul.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00