Perburuan Hewan Dilindungi Masih Marak

BENGKULU, KBRN: Penangkapan satu dari tiga tersangka pelaku penjual kulit dan tulang Harimau Sumatera (Pantera tigris) oleh tim gabungan Kementerian Lingkungan Hidup, BKSDA dan Polda Bengkulu, Minggu (20/6), menjadi indikasi kuat bahwa perburuan satwa langka yang dilindungi masih marak di wilayah Bengkulu.

Tak hanya harimau. Perburuan satwa langkah juga menyasar gajah. Sebagaimana juga terungkap baru-baru ini dimana ada seekor gajah yang ditemukan mati di kawasan hutan di Kabupaten Mukomuko. Gajah itu diperkirakan sudah mati selama dua bulan sebelum ditemukan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung Said Jauhari mengatakan pihaknya memang tak merekap persentase penurunan jumlah individu satwa langka yang mati diburu. Namun ia mengakui perburuan masih marak.

"Kalau tahun ini sudah ada dua kasus yang kita temukan. Termasuk gajah yang ditemukan mati di Mukomuko. Kini dalam proses penyelidikan terkait penyebab kematiannya di Polres Mukomuko," kata Said.

Menurut Said, pihaknya terus memantau perkembangan satwa di lapangan guna memastikan ada tidaknya peningkatan jumlah spesies kunci. Menurut dia, KLHK punya target harus ada peningkatan 10 persen dalam kurun lima tahun.

Said menyebut jumlah populasi harimau sumatera di Bengkulu saat ini hanya sekitar 20 individu. Sementara jumlah populasi gajah maksimal hanya 100 ekor. Kata Said, gajah sendiri pernah ada di wilayah Bengkulu Selatan di sekitar tahun 1990-an. Kini sebarannya hanya ada di wilayah bagian utara Bengkulu hingga ke Mukomuko.

Selain keterbatasan jumlah personil, Said mengakui perubahan kawasan hutan sebagai habitat satwa langka itu turut menjadi faktor yang membuat jumlah populasi satwa langka terus menurun.

Terkait kasus temuan gajah yang mati, Said mengatakan masih dalam uji lab. Pihaknya belum bisa memastikan apakah kematian itu karena sengaja diracun atau tidak. "Setelah ada hasil lab kan akan diserahkan ke polisi. Cuma kita belum tahu kapan hasilnya bisa diketahui," kata Said.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bengkulu masih memburu dua pelaku yang merupakan bagian dari sindikat perburuan dan perdagangan harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) di daerah itu.

Sebelumnya, tim Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dibantu aparat kepolisian menangkap MJY (40) karena kedapatan membawa kulit dan organ satu ekor harimau utuh di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno dalam ekspose perkara di Mapolda Bengkulu, Senin mengatakan, dua pelaku yang sedang diburu itu masing-masing berperan sebagai penjerat dan penjual. Sedangkan satu orang pelaku yang sudah ditangkap berperan sebagai pembawa harimau yang telah dijerat dan dibedah untuk diserahkan ke penjual.

Berdasarkan hasil penyidikan, satu ekor harimau Sumatera berukuran sekitar tiga meter yang telah dibedah menjadi beberapa bagian itu akan dijual dengan harga Rp80 juta.

Penyidik menjerat MJY dengan Pasal 40 Ayat 2 juncto Pasal 21 Ayat 2 huruf D Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara maksimum 5 tahun dan denda maksimum Rp 100 juta.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00