Ustadz Ali Ambar : Hati Hati Berhutang Secara Online

Ustadz H Ali Ambar Ketua Baznas Kabupaten Bengkalis

KBRN, Bengkalis : Adanya pinjaman online menjadikan kabar baik bagi masyarakat, karena prosesnya akan lebih mudah dan efesien. Selain itu, pinjaman online memiliki waktu pencairan dana lebih cepat dibandingkan pinjaman offline seperti di bank.

Salah satu kemudahan pinjaman online adalah uang bisa langsung cair, tanpa perlu survey terlebih dahulu. Nantinya kita hanya perlu memasukan data diri sesuai ktp agar pinjaman bisa disetujui. Dibalik kemudahan tersebut, rupanya ada resiko sangat besar yang harus ditanggung para nasabah.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bengkalis Ust.H.Ali Ambar menghimbau kepada seluruh masyarakat bengkalis untuk berhati hati terhadap pinjaman online atau berhutang dengan sistem online, dimana saat ini beliau mendapat aduan dari masyarakat yang terlilit hutang online dan menyatakan merasa terancam dalam pembayaran pinjaman.

“hati hati dengan hutang online atau berhutang secara online, kepada saya sudah ada beberapa orang mengadu ke saya dengan inisial AG,AW dan menyatakan hutang nya banyak, setelah menunggak karena bunganya besar, selanjutnya pemberi hutang online yang katanya berpusat di ibukota Jakarta mengintimidasi peminjam dengan menshere foto foto peminjam sesuai data diri yang disampaikan ketika melakukan peminjaman, selain share foto foto juga disertai kata kata caci maki di media sosial, untuk itu kami menghimbau masyarakat bengkalis untuk berhati hati dalam pinjama onlie atau berhutang secara online” ungkap Ustad Ali Ambar kepara rri.co.id sabtu (5/6/2021)

Untuk dimaklumi masyarakat harus memahami bahaya pinjaman online sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman. Jangan sampai menyesal, karena sudah banyak kasus hukum terkait pinjaman online. Apabila terpaksa harus meminjam uang secara online, disarankan untuk mengetahui seluk beluk perusahaan pinjaman online agar tidak menyesal dikemudian hari.

Di indonesia sendiri ada banyak sekali perusahaan pinjaman online. Sayangnya baru sedikit perusahaan yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sisanya merupakan perusahaan ilegal yang berpotensi merugikan konsumen dikarenakan tidak memiliki payung hukum yang jelas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00