Wejangan Guru dan Isyarat Khusus, Awal Berdirinya Pesantren Madani

KBRN, Bengkalis :  Setelah menyelesaikan pendidikan Agama di pulau Jawa, Ustadz Suyendri kembali ke Bengkalis untuk memulai pengabdiannya, mensyiarkan agama Islam.

Kepada RRI, Kamis (16/6), diceritakannya, gebrakan pertama yang dilakukan dengan membentuk komunitas Gerakan Seribu Generasi Qurani di tahun 2012, kemudian berkembang dengan pelaksanaan majelis Quran.

“2012 pulang saya bikin komunitas kecil namanya gerakan Seribu Generasi Qurani waktu itu yang diresmikan oleh pak Haji Arianto dan 2012 itu saya juga membuka majelis-majelis Quran pertama di rumah saya, di tahun 2012 sampai 2015 itu ya mungkin lebih kurang 100 orang lah yang belajar pulang pergi dari rumah masing-masing”,rincinya.

Seiring dengan perjalanan waktu, dari pengajian di rumahnya bergerak membentuk majelis taklim di 15 lokasi, kegiatan rutin tersebut berlangsung hingga tahun 2015, di awal tahun 2016 kembali ke niat awal, mendirikan pesantren yang representatif untuk membina generasi muda di daerah ini. Diakui Suyendri, isyarat untuk mendirikan pesantren didapatkannya setelah melakukan ziaran di sejumlah maqam ulama Bengkalis, isyarat untuk mewujudkan niat awalnya, mendirikan pesantren.

“Kata Buya Amrizal ada, namanya Tuan Guru Haji Ahmad, memang orang alim di Pangkalan Batang, ahirnyaa kita ziarah terus, ga ada mikir mikir pesantren sebenarnya, mikir ziarah aja, ajak keluarga, ajak anak, ajak teman-teman akhirya dapatlah isyarat pada waktu itu untuk membuat pesantren, tepatnya tahun 2016, karena memang tujuan kami balik ke Bengkalis itu untuk memang tidak lain tidak bukan niatnya memang untuk membuat pesantren”,terangnya.

Pesantren Madani, didirikan dengan modal awal 10.000 batu bata, sumbangan awal dari keluarga, kemudian berdatangan bantuan dari dermawan untuk pembangunan awal. Mulai membangun di tahun 2016 dan sempat terhenti pembangunannya hingga setahun karena ketiadaan biaya.

“Itu menyumbang 10.000 batu bata untuk yang pertama sekali itu harus dengan uang pribadi. Jadi dibangunlah setelah itu satu persatu dermawan itu datang menengok dari dekat, mengantarkan barang dan seterusnya dan pondasi ini mengerjakannya lama sampai tiang aja itu kalo tak salah saya istirahat sampai setahun saampai tiang tidak dilanjutkan karena tidak ada uang. Baru 2017 dilanjutkan lagi keatas, semuanya swadaya masyarakat”,ungkapnya.

Kini, telah berdiri dengan kokoh sejumlah bangunan untuk sarana belajar dan sejak tahun 2020, pesantren Madani telah menerima santri. Pembangunan sejumlah prasarana lainnya masih digesa guna memenuhi kebutuhan fasilitas yang standar untuk pesantren.

“Gedung dua tingkat ini nanti kita akan bikin tulisan namanya gedung Dermawan, sebagai rasa terima kasih kami mengabadikan kedermawanan orang-orang yang datang kesini. Untuk santri yang pertama 20an setingkat Tsanawiyahnya Madrasah Salafiah namanya, dan yang takhasusnya juga. tahun ini sepertinya lebih ramai berkisar 40 orang sesuai dengan kemampuan penampungan kamar”,jelasnya.

Dijelaskan Suyendri, santri yang belajar di Pesatren Madani, antara lain paling dekat berasal dari Sungai Alam dan terjauh dari dari Batam.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00