Be Quranic, Bermula Dari Pengajian di Mesjid Menjelma Menjadi Pesantren

KBRN, Bengkalis : Ustadz Suhaimi, lulusan salah satu Pondok Pesantren di Sulawesi Selatan, tepatnya di Bone, sekembalinya ke Bengkalis, mengamakan ilmu agamanya dengan mengajarkan ngaji sejumlah anak, ba’da shalat Maqrib hingga menjelang Isya. Kepada RRI pagi tadi, Rabu (09/06/2021), Suhaimi memaparkan, tidak pernah terbersit dibenakmya untuk membangun atau mendirikan pesantren, demikian juga dengan guru nya saat mondok di Bone, sama sekali tidak pernah menugaskan untuk itu.

Semuanya berawal dari kegelisahan dan kecemasan melihat perkembangan zaman yang diduga akan berdampak pada rusaknya mental dan ahlak generasi muda di daerah ini.

“Tolonglah mengabdi disana untuk agama, bangsa dan negara kita, masyarakat kita begitulah pesan beliau, jadi begitu sampai di kampung ini saya ngajar ngaji, murid waktu itu ada 2 orang, saya pun tak ada niat juga nak ngajar ngaji, saya lepas magrib duduk di masjid ada orang tua minta tolong ngajarkan anaknya mengaji karena memang imam disitu, kemudian dari 2 orang itu muridnya bertambah tambah sampailah 100 lebih di mesjid itu yang ngaji dengan saya,”ungkapnya.

Terbatasnya waktu dan pertemuan dengan anak anak dipengajian, menurut Suhaimi tidak akan efektif, karena lebih banyak waktu diluar pengajian yang diyakini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh anak anak asuh pengajian di Mesjid. Itulah salah satu alasan yang menguatkan tekadnya untuk membangun sebuah pesantren yang lebih representatif untuk membina generasi muda di daerah ini.

“Hanya mengajar dari Magrib sampai Isya itu saya belum bisa menyentuh hati anak anak ini, artinya selebihnya itu mereka dirumah entah ape dibuatnye, mungkin apa yang saya ajarkan itu habis digadaikan dengan globalisasi yang ada pada hari ini, yang saya ajarkan dari Maghrib sampai isya itu ya mungkin dirampas lagi oleh media handpone dan segala macam. Oleh karena itu saya berazamlah dalam hati untuk membuat sebuah pesantren,”jelas ustadz Suhaimi campur logat melayunya.

Selanjutnya : Awalnya hanya 7 anak kelas 1

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00