Sindikat Love Scamming Ancam Masyarakat Digital Indonesia

  • 26 Mei 2026 19:25 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Perkembangan teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan komunikasi, tetapi juga memunculkan berbagai bentuk kejahatan siber baru. Salah satu yang kini menjadi perhatian serius adalah maraknya praktik love scamming atau penipuan berkedok hubungan asmara yang memanfaatkan media sosial dan aplikasi percakapan untuk memperdaya korban.

Modus ini umumnya dilakukan dengan membangun kedekatan emosional secara intens kepada korban melalui komunikasi daring. Pelaku berpura-pura menjadi sosok ideal, mulai dari anggota militer, pebisnis sukses, hingga figur romantis yang perhatian. Setelah korban merasa percaya dan memiliki keterikatan emosional, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan, seperti biaya pengiriman hadiah, investasi, hingga keadaan darurat palsu.

Otoritas Jasa Keuangan menyebut love scamming menjadi salah satu tren kejahatan finansial digital yang meningkat secara global dan mulai marak terjadi di Indonesia. Berdasarkan data OJK, kerugian akibat penipuan berbasis hubungan emosional sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp49 miliar.

Kasus terbaru bahkan berhasil dibongkar aparat kepolisian di sejumlah daerah. Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah mengungkap sindikat penipuan daring dengan modus pig butchering atau manipulasi emosional yang melibatkan jaringan lintas negara. Dalam kasus tersebut, puluhan tersangka diamankan dengan total kerugian korban mencapai Rp41 miliar.

Sementara itu di Yogyakarta, aparat membongkar praktik love scamming internasional yang dijalankan melalui aplikasi kencan daring asal luar negeri. Para pelaku bekerja sebagai admin percakapan dan menyamar sebagai perempuan untuk merayu korban dari berbagai negara agar melakukan transaksi digital di dalam aplikasi.

Fenomena serupa juga ditemukan di Lampung. Polda Lampung mengungkap praktik love scamming yang dijalankan ratusan narapidana dari dalam rumah tahanan. Para pelaku menyamar sebagai anggota TNI maupun Polri di media sosial untuk menipu korban perempuan melalui hubungan asmara dan video call sex.

Selain menimbulkan kerugian finansial, love scamming juga berdampak besar terhadap kondisi psikologis korban. Banyak korban mengalami trauma emosional karena merasa dikhianati setelah membangun hubungan yang dianggap nyata. Dalam sejumlah kasus, korban bahkan rela menjual aset atau meminjam uang demi memenuhi permintaan pelaku.

Peneliti keamanan siber menyebut praktik romance fraud berkembang karena pelaku memanfaatkan rasa percaya dan kebutuhan emosional seseorang. Studi akademik tentang penipuan asmara daring menunjukkan pelaku umumnya menggunakan identitas palsu dan pendekatan komunikasi yang sistematis untuk membangun kedekatan dengan korban dalam waktu tertentu.

Seiring perkembangan kecerdasan buatan atau AI, modus love scamming juga semakin sulit dikenali. Pelaku kini memanfaatkan foto dan identitas palsu berbasis AI untuk menciptakan profil yang tampak meyakinkan di media sosial maupun aplikasi kencan.

Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap hubungan daring yang berkembang terlalu cepat, terutama jika sudah mulai disertai permintaan uang, investasi, ataupun data pribadi. Aparat juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap identitas seseorang di media sosial sebelum melakukan verifikasi secara langsung.

Peningkatan literasi digital dan kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mencegah masyarakat terjebak dalam sindikat love scamming yang kini semakin terorganisir dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara masif.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....