Diskusi Sejarah dan Budaya Bengkalis, Persembahan Semesta untuk Hari Jadi Bengkalis ke 509

Foto Bersama Komunitas Semesta dan Narasumber Riza Fahlefi
Suasana Kegiatan Diskusi Sejarah dan Budaya Bengkalis

KBRN,Bengkalis : Komunitas Semesta Bengkalis gelar kegiatan diskusi sejarah dan budaya, sempena Hari Jadi Bengkalis ke 509 Tahun 2021 , dan kegiatan diskusi dilaksanakan di salah satu Cafe di Kelurahan Bengkalis Kota minggu malam kemarin.

Menurut CEO Komunitas Semesta Bengkalis, Ashela Risa, Semesta didirikan sejak tahun 2020 atau tepatnya pada 20 juli 2020 dan tahun ini memasuki usia ke satu tahun, adapun fokus isu yang diangkat oleh komunitas ini adalah pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

“Sentral Muda Bestari yang disingkat menjadi Semesta ini berdiri sejak tahun 2020 lalu tepatnya 20 Juli dan kami fokus pada 3 isu yakni pendidikan, kesehatan dan lingkungan, dimana bertepatan satu tahun keberadaan Semesta di Bengkalis ini kami mencoba gelar kegiatan diskusi sejarah dan budaya bengkalis yang mana dalam waktu dekat kita akan menyambut helat hari jadi Bengkalis ke 509 tahun” ungkap Ela panggilan akrabnya, senin (26/7/2021) 

Adapun narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan Diskusi Sejarah dan Budaya Bengkalis ini adalah Riza Pahlefi yang merupakan mantan wakil bupati Bengkalis periode 2000-2005 yang juga penulis serta penikmat sejarah dan budaya Bengkalis. Ia mengisi 2 segmen diskusi, yang pertama mengulik tentang sejarah Bengkalis dan segmen kedua membahas tentang budaya dan nilai-nilai yang ada di Bengkalis. 

Salah satu topik yang didiskusikan antara lain adalah dari mana asal mula kata “Bengkalis?” Apakah memang berasal dari kata ‘Mengkal’ dan ‘Kalis’, yang diucapkan oleh Raja Kecik saat tiba di Muntai pada abad 17-an lalu?

Riza Pahlefi yang akrab disapa Abah Riza turut menjawab bahwa kata Bengkalis yang berasal dari ‘Mengkal’ dan ‘Kalis’ bukanlah informasi valid yang dapat dijadikan rujukan karena dari ‘timeline’-nya saja tidak tepat. Menurut beliau, dari fakta sejarahnya, nama ‘Bengkalis’ bahkan sudah dituliskan dalam berbagai literatur berbahasa Belanda dan Portugis di abad 15-an, jauh sebelum kedatangan Raja Kecik ke Bengkalis. 

Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh 20 peserta dari mahasiswa dan masyarakat umum yang menaruh perhatian besar pada autentisitas sejarah dan kelestarian budaya Bengkalis. Jumlah peserta dibatasi hanya 20 orang, dengan kewajiban menerapkan protokol kesehatan ketat mengingat situasi pandemi Covid-19 yang masih terjadi. 

Diskusi dipandu oleh Mella Yulindra yang merupakan Dara Riau 2019 dengan sangat atraktif. Mengundang pertanyaan menarik dari peserta diskusi. Salah satu pertanyaan menarik dari peserta yaitu apakah usia Bengkalis benar-benar 509 tahun?

Abah Riza kemudian menjawab bahwa Bengkalis tidak muncul atau lahir begitu saja pada 509 tahun yang lalu, bisa jadi Bengkalis sudah ada jauh sebelum itu. Angka 509 adalah tonggak, sebuah ‘milestone’ yang menjadi penanda untuk awal yang baru di masa berikutnya. 

Kegiatan Diskusi juga turut menampilkan puisi yang berjudul ‘Rindu si Anak Pulau Untuk Bengkalis Negeri Junjungan’, dibawakan oleh Muhammad Sapikri dari Rumah Sastra Bengkalis dengan iringan musik melayu Bengkalis, penampilan puisi turut mewarnai dan memeriahkan acara sebelum memasuki segmen kedua.

Closing statement dari Abah Riza adalah sebuah ajakan untuk merawat bersama Bengkalis yang kita cintai dan banggakan, ia juga mengapresiasi kegiatan diskusi, karena menurutnya inilah salah satu wujud dari upaya untuk merawat Bengkalis.

Sementara itu harapan Semesta, semoga makin banyak gerakan-gerakan kecil dan langkah kolaboratif bersama dari berbagai pihak sebagai upaya untuk membuat perubahan yang besar. Untuk Bengkalis Maju. Untuk Bengkalis Jaya, tutup ela. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00