Suka Duka Perjuangan Guru di Tengah Pandemi Covid-19

KBRN, Bengkalis: Pandemi Covid-19 yang menerpa Indonesia sejak Maret 2020 lalu memaksa seluruh kalangan untuk bekerja keras mencegah penyebaran dan meminimalisir jatuhnya korban.

Selain para medis yang berjibaku untuk menangani warga yang terinfeksi virus corona tersebut, kalangan guru juga berkerja keras mencarikan solusi untuk mendistribusikan pengetahuan dan pembelajaran, tanpa dapat bertatap muka, layaknya di masa normal.

Raja Maryani, guru SMP negeri 1 Bengkalis, saat diwawancara RRI, Rabu (25/11/2020) mengemukakan, penerapan protokol kesehatan dengan meniadakan kegiatan tatap muka di sekolah, mengharuskan guru untuk belajar dan mampu menguasai Informasi Teknologi (IT).

‘Pengalaman untuk bisa menambah penegetahuan IT sehingga bisa mengikuti perkembangan zaman kemudian juga bisa menjangkau anak, kalau tugas-tugas sudah teratur masuk dalam sistem, itu yang memudahkan. Dukanya adalah anak sulit diajak masuk ke dalam ketika kita sedang adakan zoom meeting kah atau juga masalah yang mereka katakan kami jaringannya lelet bu. Kemudian ada anak yang bahkan sama sekali belum pernah ikut dalam kegiatan daring itu dan kami sampai mendatangi rumah anak tersebut untuk menginformasikan kepada orang tuanya bahwa anaknya belum mengumpukan tugas sama sekali, jadi kami memang hunting sampai ke rumah orang tuanya”ungkap Raja Maryani.

Hal senada terungkap juga dari Meirian Dahlianti, tenaga pengajar lainnya guru di SMP Negeri 1 Bengkalis, kendala tidak hanya dihadapi oleh guru untuk menguasai IT, namun banyak dari Siswa yang tidak memiliki android, tapi terbantu dengan program google class room.

“Kalau suka dukanya banyak ya, karena tidak semua para siswa itu yang memiliki fasilitas seperti android kemudian tidak semua juga siswa merata mendapatkan paket yang di berikan oleh Kemendikbud, jadi ada yang tak dapat sampai sekarang. Kemudian kendalanya lagi ada orang tua yang memiliki lebih dari 1 orag anak dan dia menggunakan 1 android, misalnya kakaknya satu SMA, satu lagi di SMP, itu mereka harus berbagi. Untungnya di sekolah kami menggunakan google class room”terang Meirian Dahliani.

Menurut Muhtar Sayuti, Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP pada Dnas Pendidikan Bengkalis, pihaknya telah menempuh berbagai upaya, antara lain menyiapkan modul pembelajaran daring, serta memproduksi lebih dari 300 video pembelajaran, yang dapat di akses di chanel you tube disdik kabupaten Bengkalis.

“Yang pertama menyusun panduan belajar dari rumah itu telah kami laksanakan dan panduan ini sudah kami sebarkan ke SD, SMP maupun PAUD se Kabupaten Bengkalis, selanjutnya kami dalam hal karena di larang untuk tatap muka maka kami berinisiatif membuat video pembelajaran, khusus ini masih yang SMP, MTs gitu ya. Jadi video pembelajaran yang jami buat kami tayangkan melalui you tube, dengan judul Disdik Bengkalis Gemilang”jelas Muhktar s

Sementara itu, kendala lainnya di tengah pandemi bagi dunia pendidikan, dihadapi oleh tenaga pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), sebagaimana dijelaskan M. Isnaini salah seorang gurunya kepada RRI kemarin. Anak berkebutuhan khusus, kesulitan untuk mengikuti pelajaran dengan sistim daring dan luring, mengharuskan para guru untuk berkunjung langsung ke rumah siswa, namun terkendala dengan penerapan protokol kesahatan yang membatasi kegiatan tatap muka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00