Dukung Penataan Kawasan Religi Syekh Nawawi, BBWSC3 “Poles” Anak Sungai Cidurian

PPK Operasi dan Pemeliharaan II pada BBWSC3, Tanto Sugiharto (Dendy/RRI)

Tanto menyebut, teknis pemasangan ratusan bronjong itu menerapkan metode Padat Karya Tunai (PKT). Seluruh pekerjaan itu dikelola oleh masyarakat sekitar. PKT menjadi salah satu stimulus dari pemerintah untuk membantu ekonomi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

“Pembangunan ini adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang terimbas pandemi, berupa sebuah program Padat Karya Tunai, yang mana masyarakat setempat yang diutamakan untuk dapat bekerja menerima insentif dan manfaat,” bebernya.

Dengan melibatkan hampir 1,749 pekerja setiap harinya, kegiatan itu selesai tak lebih dari tiga bulan.

“Kegiatan ini membangun bronjong sepanjang 180 meter dan galian sedimen sekitar 1,700 meter kubik yang dilakukan manual oleh masyarakat. Pemeliharaan tersebut dilaksanakan sejak bulan September hingga 17 November 2020. Semua pekerjaan sudah tuntas dikerjakan,” tegasnya.

Baca juga: Dukung Percepatan PEN, Program PKT Diperluas

“Semoga pekerjaan Padat Karya Tunai ini dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, terutama mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19,” harapnya.

Sementara seorang warga, Ismail yang ikut mengerjakan pemasangan bronjong, sekaligus salah satu tokoh pemuda Kampung Tanara mengakui pasca-pemasangan bronjong itu, kawasan aliran anak Sungai Cidurian lebih tertata.

“Kalau masalah bronjong, sebelumnya kawasan ini kumuh dan tidak tertata rapi. Banyak hal-hal negatifnya. Tapi sesudah adanya program bronjong, Alhamdulillah terlihat secara dhohir baik, tertata rapi. Dan dilihat secara batin sejuk dan nyaman,” katanya.

Efek lain yang dirasakan masyarakat, yakni mereka tidak lagi khawatir akan meluapnya air dari sungai. Pasalnya sebelum ada program pemasangan bronjong, luapan air akibat rob maupun hujan deras kerap masuk kepemukiman warga.

“Sebelumnya, saat musim hujan, itu banjirnya sampai meluap ke kampung karena enggak ada pembatas. Namun InsyaAllah setelah bronjong dipasang, air tidak meluap lagi ke kampung saat hujan deras,” kenangnya.

Baca juga: Program PKT Serap 140 Ribu Lebih Naker

Bukan hanya itu, lanjut Ismail, metode padat karya tunai juga dirasakan membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi akibat pandemi. Dengan padat karya tunai, perekonomian masyarakat sedikit banyak terbantu karena biaya pembangunannya dikelola langsung oleh masyarakat.

“Masyarakat yang tadinya terdampak Covid, masyarakat jadi ada penghasilan ketika dipekerjakan, secara ekonomi terbantu dan secara kesehatan juga karena kami semua tergerak untuk mengerjakan program padat karya ini,” imbuhnya bangga.

Namun dia berharap, pembangunan tersebut kembali dilanjutkan ditahun mendatang. Masyarakat menginginkan pemasangan bronjong dilakukan merata hingga ke hilir sungai.

“Harapan kami, sisi sungai sampai ke hilir dibronjong. Kami mohon seluruh panjang dari sini ke laut, kami mohon dibronjong semua agar terhindar dari luapan air ke kampung,” pintanya.

Halaman 2 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00