Pandeglang Krisis Role Model Pemimpin Berintegritas

Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr Karomani, M.Si (Dendy/RRI)

KBRN, Pandeglang: Kabupaten Pandeglang dihadapi oleh krisis pemimpin yang bisa menjadi teladan atau role model. Akibatnya hingga kini, Pandeglang masih tergolong sebagai daerah terbelakang di Provinsi Banten.

Padahal dengan segala potensinya, seharusnya Pandeglang bisa menjadi wilayah maju sejak beberapa tahun lalu.

Kritik itu dilontarkan Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr Karomani, M.Si. Apa hubungannya Karomani dengan Pandeglang? Ternyata dia merupakan warga asli Pandeglang yang lahir 59 tahun lalu. Karomani bahkan mengenyam pendidikan hingga tingkat SLTA di Pandeglang.

Statusnya sebagai putra daerah itu lah yang membuatnya resah dengan keadaan di Pandeglang saat ini.

“Saya sudah 40 tahun meninggalkan Pandeglang, tetapi tidak ada perkembangan yang signifikan. Semua bidang terpuruk, baik dari infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Pandeglang masih jauh,” keluhnya saat meninjau kampung halamannya, Jumat (14/8/2020).

Dia memandang, rendahnya pembangunan di Pandeglang disebabkan minimnya pemimpin yang visioner dan integritas, sebagai role model bagi masyarakat. Salah satu yang disorot adalah minimnya biaya pembangunan di Pandeglang.

Kecilnya fiskal Pandeglang yang kerap dikeluhkan, menjadi bukti bahwa pemimpin di Pandeglang tidak memiliki inovasi.

“Kalau masalah fiskal rendah, Itu tantangan bagi seorang pemimpin. Tidak ada istilah pemimpin buntu. Dia juga ditantang dengan kondisi seperti itu. Kalau semuanya baik-baik saja, ngapain jadi pemimpin?” sindirnya.

Tidak cuma inovasi. Seharusnya kata dia, Pemerintah Daerah (Pemda) juga memperbanyak kolaborasi dengan pihak lain.

“Saya khawatir, kerjasama pun miskin di sini. Padahal dari kerjasama itu, bisa saling sinergi membangun infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan,” jelasnya.

“Harus solutif, pemimpin bukan tempatnya mengeluh tetapi harus memcahkan persoalan di depan mata dia untuk kepentingan umat,” sambung Rektor yang dilantik akhir November 2019 lalu oleh Mendikbud, Nadiem Makarim itu.

Selain berdampak pada pembangunan, minimnya integritas pemimpin itu menyebabkan rendahnya gerakan civil society di Pandeglang, terutama kalangan masyarakat bawah.

“Oleh karena itu, Pandeglang juga harus mulai memunculkan beberapa role model ditingkat arus bawah, misal gerakan ekonomi rakyat. Pandeglang harus kuat gerakan civil society-nya untuk mengontrol keadaan, perkembangan bidang politik, ekonomi, dan lain-lain kehidupan masyarakat di Pandeglang,” bebernya panjang lebar.

Lebih jauh Karomani mendorong munculnya gerakan pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan yang diinisiasi oleh lembaga-lembaga swadaya. Soalnya, dia dan sejumlah putra daerah yang kini mengabdi di luar Banten, menantikan suatu role model pemberdayaan diberbagai bidang yang bisa dibantu.

“Sebetulnya, tokoh Banten di luar memiliki kepedulian yang tinggi. Saat ini menunggu kegiatan role model agar kami bisa dibantu. Intinya, coba diadakan penguatan terhadap lembaga civil dibidang ekonomi, kesehatan, atau dibidang lain. Jika itu betul-betul kami lihat signifikan terhadap masyarakat, maka kita akan coba berkolaborasi,” katanya.

“Kalau mengenai bantuan anggaran, kalau ada trust dimasyarakat, tokoh-tokoh banten juga akan bergerak membantu. Sepanjang lembaganya betul-betul punya kontribusi dan signifikan membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tutup ayah dua anak itu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00