FOKUS: #PPKM

Sebanyak 1.7 Juta Keluarga di Banten Berisiko Stunting

Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Perwakilan BKKBN provinsi Banten Nurizky Permanajati dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) provinsi Banten Sitti Maani Nina saat dialog interaktif di studio Produksi RRI Banten, Rabu (6/7/2022). 

KBRN, Serang: Sebanyak 1.7 juta keluarga di provinsi Banten berisiko terkena stunting. Data tersebut didapat dari hasil pendataan oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) priovnsi Banten pada tahun 2021 lalu. "Di Banten itu 1.7 juta kekyarg yang berisiko. Data ini diambil dari pendataan keluarga 2021," ungkap Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Perwakilan BKKBN provinsi Banten Nurizky Permanajati, saat dialog interaktif di studio Produksi RRI Banten, Rabu (6/7/2022). 

Nurizky menyebut untuk menekan resiko stunting di Banten pihaknya mengintensifkan program pencegahan dari hulu. Salah satunya yakni dengan melayani konsultasi kesehatan remaja hingga pendampingan bagi calon pengantin. "Catin nanti register di aplikasi yang sudah disiapkan dan nanti diisi pertanyaan. Setelah itu akan teridentifikasi dari pertanyaan tersebut. Kemudian pas hamil dan persalinan hingga anak usia 2 tahun juga akan ada pendampingan," ucapnya. 

Melalui upaya itu, lanjut Nurizky diharapkan mampu mengurangi jumlah menderita stunting di provinsi Banten. Apalagi BKKBN ditargetkan dapat menurunkan angka stunting di Banten hingga 20.98 persen. "Target tahu  2022 ini angkanya 20.98 persen. Karena Banten masuk 5 angka stunting tinggi. Karena angka prevalensi stunting di Banyen itu 24.5 dan termasuk 10 provinsi prioritas oleh pemerintah pusat," tegasnya. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) provinsi Banten Sitti Maani Nina menyebut pentingnya sosialisasi pencegahan stunting sejak dini. Karena 1000 hari pertama kehidupan pada tahap pembentukan bayi menjadi penting. "Dari awal sudah harus diperhatikan kaitannya 1000 hari pertama dari kehidupan. Selama masa kehamilan dan pertama kali bayi dilahirkan atau dua tahun pertama. Jadi ada periode golden age. Sehingga butuh gizi dan 1000 hari pertama itu waktu krisis dan harus dimanfaatkan. Karena kalau tidak terjadi kerusakan permanen dan menjadi stunting," terang Nina. 

Dimana lanjut Nina pendidikan tentang alat reproduksi hingga penanganan bayi saat berumur 2 tahun harus terus digalakkan oleh orang tua. "Dengan begitu resiko stunting dari setiap keluarga di Banten dapat dicegah sejak awal," tandas Nina. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar