Sarasehan Budaya dan Pentas Seni: Pandeglang Butuh Lebih Banyak Ruang Kreatif

Penampilan Toleat, salah satu seni tradisi Pandeglang yang sudah jarang ditemui. (Arsip Nanda Ghaida)

KBRN, Pandeglang: Sabtu, 25 Juni 2022 kemarin, Sanggar Seni Cikondang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten menggelar Ruang Publik Berkreasi: Sarasehan Budaya dan Pentas Seni. Kegiatan yang juga didukung pula oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang tersebut, hadir sanggar seni dan komunitas seni budaya untuk membahas Arah Pemajuan Kebudayaan Pandeglang.

Kehadiran mereka adalah bentuk keresahan atas sepinya ruang-ruang kebudayaan di pusat administrasi Kabupaten Pandeglang. Momen tersebut kemudian dimanfaatkan para seniman dan budayawan untuk duduk bersama pemerintah dan membicarakan titik temu.

Baca juga: Kongres Kreatif Tumbuhkan Semangat Kebangkitan Ekraf di Banten

Sarasehan Budaya yang dihadiri lebih dari 50 orang seniman dan budayawan tersebut membahas strategi dan evaluasi terhadap arah pemajuan kebudayaan Pandeglang. Hasil dari diskusi tersebut akan menjadi bahan untuk mengawal Rapeda Kebudayaan yang sedang digarap DPRD Pandeglang.

Seorang perupa asal Pandeglang yang aktif sejak era 70-an dan melahirkan banyak karya yang dipamerkan di galeri nasional, Gebar Sasmitha berharap agar para seniman dapat hidup dari aktivitas keseniannya. Menurutnya, pemerintah perlu hadir dalam menciptakan pasar-pasar seni sebagai salah satu upaya memajukan kebudayaan daerah.

Seniman dan komunitas seni mengikuti diskusi mengenai Arah Pemajuan Kebudayaan Pandeglang. (Arsip Nanda Ghaida)

“Hotel-hotel dan destinasi wisata dapat menjadi salah satu ruang pasar untuk mempromosikan karya yang dihasilkan para seniman, mulai dari kriya, rupa, hingga seni pertunjukan, baik seni modern maupun tradisi. Pemerintah perlu menjembatani pelaku seni dan pelaku industri wisata sebagai salah satu cara untuk menyejahterakan seniman,” ungkap pria yang akrab disapa Wa Gebar itu.

Seniman lain yang turut hadir adalah RA Yopi Hendrawan Utoyo, pendiri Ruang Kreatif Halaman Budaya di Panimbang. Ia mengingatkan, ruang-ruang pertunjukan di pinggiran juga perlu mendapatkan perhatian.

Baca juga: Pandeglang Fokus Kembangkan Lima Subsektor Ekonomi Kreatif

“Simpul-simpul ruang budaya harus dibangun disetiap wilayah. Apalagi jika bicara tentang potensi wisata, setiap wilayah memiliki seni dan budaya daerah yang tumbuh. Desa, sebagai tonggak kekuatan ekonomi, dapat menjadi penopang dari pinggiran kota. Karenanya, pemajuan kebudayaan harus dapat mengakses pinggiran dan pedalaman wilayah,” ungkap sutradara pertunjukan Jalan Pulang dan Malam Botak tersebut.

Gebar Sasmita menilai pemerintah perlu hadir dalam menciptakan pasar-pasar seni sebagai salah satu upaya memajukan kebudayaan daerah. (Arsip Nanda Ghaida)

Plt Kepala Disparbud Pandeglang, Ramadhani mengamini bahwa ruang-ruang publik perlu aktif dan menjadi wadah bagi para seniman untuk berkreasi dan menciptakan ruang bagi masyarakat mengapresiasi.

“Di Bandung, Bali, pemerintah daerah memfasilitasi seniman dan budayawan. Ada ruang-ruang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seniman dan budayawan untuk berkreasi. Wisata dapat bergerak berdampingan dengan sektor industri kreatif. Kita bisa dengan mudah melihat seni pertunjukan di Bali, di mana seni pertunjukan itu menjadi daya tarik untuk memajukan pembangunan daerah,” ujar Ramadhani.

Baca juga:Maestro Calung Renteng Cibaliung Diganjar Anugerah Kebudayaan Indonesia

Lanjutnya, Sarasehan Budaya ini jadi momentum yang tepat untuk menerima masukan juga saran, serta harapan dari para pegiat/pelaku seni budaya sehingga pemerintah dapat merencanakan kegiatan yang sesuai dengan arah pemajuan dan kebudayaan yang diharapkan.

Usai sarasehan, kegiatan itu dilanjutkan dengan menampilkan seni tradisi Pandeglang, seperti Beluk dari Satra Institute, Babaluk karya Muklis, dan Toleat Toni and Friend dari Cinyurup. Beluk dan toleat yang tumbuh di masyarakat pegunungan di Gunung Karang merupakan dua seni tradisi yang jarang hadir dan tak lagi dikenal oleh sebagian besar generasi muda Pandeglang. Bahkan, saat ini, di Cinyurup sudah jarang generasi muda yang tertarik untuk mempelajari dua seni tersebut.

Plt Kepala Disparbud Pandeglang, Ramadhani (paling kanan) saat berdiskusi mengenai kebudayaan Pandeglang. (Arsip Nanda Ghaida)

"Kita bisa melihat Korea dari Kampung Korea di Juhut. Tapi, kita kesulitan untuk mengakses seni-seni tradisi yang sebenarnya milik kita. Padahal, seni budaya yang ada di Pandeglang dapat menjadi ciri khas dan ikon daerah. Karenanya, pelibatan seniman dan budayawan dalam menentukan arah pembangunan daerah juga penting, agar kebudayaan daerah Pandeglang dapat lestari, tidak hanya di kampung sendiri, tapi juga mendunia,” celoteh Rizal Mahfud, pegiat seni budaya yang tergabung dalam kelompok Boeatan Tjibalioeng.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar