Ratusan Puskesmas dan Klinik di Banten Dapat Wakaf Alat Kesehatan Trial Lens

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramuji Hastuti menerima wakaf alat kesehatan untuk ratusan Puskesmas secara simbolis. (RRI/Dendy)

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Serang Dasrial menambahkan, program yang dilakukan ini sejalan dengan program pemerintah dalam mengatasi gangguan mata. Mengingat selama ini FKTP maupun klinik mengalami kesulitan dalam memberi layanan kesehatan mata lantaran keterbatasan alat.

“Jadi program pelayanan mata ini, selama ini kan doketr mata ada di rumah sakit. Secara skrining mata ini dilakukan di puskesmas atau klinik. Apalagi selama ini di FKPT dan klinik belum punya kemampuan dalam mendeteksi itu karena keterbatasan alat,” ujarnya.

Baca juga: 331.975 Warga Pandeglang Belum Punya Jaminan Kesehatan

Akibat keterbatasan alat itu lanjutnya, tren rawat inap dan rawat jalan dalam pelayanan kesehatan mata meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Soalnya, pasien harus dirujuk ke Rumah Sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

“Sebenarnya dokter mata ada disemua RS, tapi dengan RSAW yang mengkhususkan pada layanan mata, pasien yang selama ini memiliki antrean panjang di RS lain, bisa terdistribusi ke RSAW jadi tentu ada peningkatan secara menjalani rawat inap dan jalan,” imbuhnya.

Baca juga: Indonesia Melihat Singgah di Banten, Dompet Dhuafa Bagikan Kacamata Untuk Ratusan Siswa

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti menyambut baik penyaluran bantuan alat kesehatan mata itu. mengingat sejak pandemi Covid-19, terjadi peningkatan penyakit myopia sebanyak tiga kali lipat.

“Selama pandemi Covid, kasus miopia terjadi peningkatan tiga kali lipat karena aktivitas masyarakat banyak menggunakan gawai selama pandemi, baik WFH dan belajar dari rumah. Ini yang meningkatkan kasus miopia,” tuturnya.

Baca juga: Dompet Dhuafa dan Ponpes Ilmu Al Quran Kembangkan Zakat Produktif Berbasis Pesantren

Ati menjelaskan, untuk menekan pengidap miopia itu, 246 Puskesmas di Banten yang mendapat bantuan alat deteksi penyakit mata itu ditekankan untuk melakukan skrining. Karena tidak ada yang pernah tahu siapa saja yang berpotensi terjadi kelainan pada mata atau miopia.

“Mudah-mudahan ini terus dilakukan, karena dengan pertama persiapan untuk SDM kesehatan yaitu dengan seminar, ini akan mempercepat melakukan skrining sebanyak-banyaknya kepada orang yang berpotensi mengidap miopia,” tandas Ati.

Halaman 2 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar