Sejarah Tari Zapin Sisit di Kalsel

Source: Sesawi.net

KBRN, Banjarmasin: Tarian Zapin berasal dari perkataan Arab yaitu "Zaffan" yang artinya penari dan "Al-Zafin" yang artinya gerak kaki.

Japin Sisit merupakan tarian rakyat Kalimantan Selatan yang sifatnya sebagai hiburan masyarakat. Disebut Japin Sisit karena dasar gerakan tari ini banyak menggunakan gerakan langkah empat sisit atau putaran sisit.

Tari Zapin menjadi bagian kesenian Melayu yang juga berkembang di Kalimantan Selatan. Tari yang sumbernya dari Timur Tengah ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara formal.

Salah satunya ditampilkan pada pesta perkawinan adat Banjar, sepaket dengan Sinoman Hadrah yang juga budaya Melayu bersumber dari Timur Tengah dan berkembang di Kalsel.

Ciri khas tari Zapin adalah permainan langkah kaki yang dinamis dan berpola. Dilakukan berpasangan atau berkelompok sehingga terlihat indah dan menarik minat untuk ikut menari.

Musik pengiringnya terdiri atas dua alat utama yaitu alat musik petik Gambus dan tiga buah alat musik tabuh Marwas atau Marawis, Gendang, dan Rebana.

Pada awalnya seni tari dan musik Zapin dijadikan sebagai hiburan bagi murid-murid setelah mengaji agama di lingkungan kerajaan. Namun setelah Tengku Embung Badariah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766–1780 Masehi) menikah dengan Syarif Utsman bin Syarif Abdul Rahman Syahabuddin, keberadaan Tari Zapin semakin berkembang di wilayah Great Tradition (Lingkungan Istana) dan berakulturasi dengan budaya lokal. Akhirnya, tari Zapin menjadi seni hiburan di kalangan istana bahkan dalam acara seremonial kerajaan sehingga dikenal dengan sebutan Zapin Istana.

Zapin diyakini masuk ke wilayah Nusantara dipengaruhi oleh orang-orang Persia dan Arab yang berakulturasi dengan kebudayaan Melayu lokal dalam menyebarkan ajaran Islam dari Timur Tengah pada sekitar abad keempat belas. Kala itu hanya laki-laki yang diperbolehkan untuk melakukan tarian Zapin. Sekarang ini, penari wanita juga dapat disertakan.

Dahulu, tarian ini hanya dilakukan untuk upacara keagamaan tetapi selama bertahun-tahun tarian itu telah berkembang menjadi suatu bentuk hiburan tradisional bagi masyarakat Melayu, sehingga penari wanita diperbolehkan berpartisipasi. (Jaliah)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar