Cemati Ali, Pusaka Tradisional Kalsel

Source: cyberspaceandtime.com.

KBRN, Banjarmasin: Indonesia memiliki banyak pusaka yang sangat berharga dan memiliki kesaktian yang luar biasa bahkan di luar nalar manusia. Setiap daerah di Nusantara  ini memiliki Pusaka nya masing-masing, salah satunya di Kalimantan Selatan terdapat Pusaka Tradisional yakni “Cemati Ali”, Senin (25/10/2021).

Cemati Ali mempunyai banyak nama yaitu Cemeti Ali, Camati Ali, dan Kaci Mati. Berdasarkan pengertiannya Cemati Ali adalah sebuah cambuk atau dapat juga sebagai senjata yang di pukulkan ke suatu sasaran. Senjata ini dapat juga di pakai sebagai tongkat komando.

Senjata ini sudah lama dikenal oleh manusia dari berbagai bangsa, bahkan sampai sekarang masih banyak yang menggunakannya.

Cemati Ali atau Kaci Mati disebutkan juga sebagai jimat, dikarenakan berisi rajah-rajah yang berkhasiat untuk menghindarkan diri dari bahaya seperti orang yang ingin mencelakakan.

Pusaka ini biasanya terbuat dari kayu, namun tidak jarang menggunakan bahan lain. Sebelum proses rajah, orang yang merajah diharuskan berpuasa dan ber khalwat memohon keselamatan lewat rajah yang akan ditulis. Di tengahnya di beri lubang untuk memasukan rajah.

Saking kuatnya Cemati Ali ini dapat merobohkan pohon dan membuat kering pohon tersebut karena Cemati ini mempunyai sifat panas.

Apabila si pengguna memukulkan ke seseorang dari jarak jauh, maka orang itu muntah darah. Apalagi jika di pukulkan secara langsung atau jarak dekat, maka dapat menyebabkan pingsan bahkan dapat meninggal dunia atas izin Allah Subahanahu Wata’ala. Maka untuk menyembuhkannya dengan cara meminum air rendaman dari Cemati itu sendiri.

Pantangan dalam menggunakan Pusaka Sakti ini adalah jangan dipukulkan pada sembarangan orang/sesuatu dan jangan dipakai untuk menyakiti orang lain selain untuk mempertahankan diri, karena hal itu dapat mengakibatkan Khasiat Cemati menjadi lemah.

Sejarah Cemati Ali ini mempunyai banyak versi akan tetapi yang paling familiar dan yang memperkenalkannya yaitu oleh seorang Waliyullah Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari di Kalimantan Selatan pada awal tahun 1710 M hingga 1812 M.

Dahulu pada awal kegunaannya ialah untuk mengusir Kuyang (Polong/Hantu Penanggal) dan saat membuka hutan untuk membangun pesantren & Tempat tinggal.

Cemati Ali kegunaannya dapat menangani gangguan makhluk halus sekaligus juga dapat menjadi senjata dalam perang ghaib dengan tukang-tukang sihir dan tentara-tentara syaitannya. Termasuk mereka yang suka memasuki hutan dengan tujuan mendaki atau berkemah agar terhindar dari gangguan makhluk halus serta gangguan hewas buas & berbisa.

Cemati dapat sebagai tongkat Komando dan biasanya di bawa oleh orang-orang yang berpengaruh, seperti pemimpin atau orang besar dan ulama pada zaman dahulu.

Diceritakan oleh KH. Syaifuddin Zuhri dalam majelis yang di asuh beliau, bahwa pernah seorang ulama karismatik Kalimantan Selatan memberikan cemati pada Presiden Soekarno, ulama tersebut bernama “Tuan Guru Zainal Ilmi”.

Tuan Guru Zainal Ilmi di kenal masyarakat Banjar sebagai ulama yang ahli dalam ilmu wafaq. Cemati merupakan salah satu produk ilmu wafaq tersebut.

Cemati Ali yang asli dari buatan tangan Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari masih tersimpan rapi hingga sekarang di daerah Kelampayan sebagai daerah penerus Dzurriyyat (anak keturunan) Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari. (Achmad Suwandi)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00