Senoman Hadrah, Kesenian Tradisional Bernuansa Islami di Kalimantan Selatan

Source: Medcom.id

KBRN, Banjarmasin: Kerajaan Islam Pertama di Nusantara yaitu Kerajaan Samudra Pasai pada akhir abad ke-13. Hal itu diperkuat dengan ditemukan nya bukti-bukti arkeologis batu nisan makam Malik al Saleh tahun 1297 M. 

Pada abad ke-15 Kalimantan merupakan daerah penghasil intan satu-satunya di Nusantara, sehingga banyak para pedagang dari luar yang singgah di bumi Kalimantan ini. Jumat, (22/10/2021).

Raja pertama Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan ialah Sultan Suriansyah, dengan masuk nya Raja Banjar pada saat itu, maka menyebarlah Islam di Tanah Banjar.

Karena hal itu, banyak Tradisi atau Budaya dari luar yang berkembang dan di adopsi oleh masyarakat Banjar. Salah satu Kebudayaan atau Kesenian yang diadopsi oleh masyarakat Banjar yakni “Senoman Hadrah”.

Senoman Hadrah terdiri dari dua kata yaitu Senoman dan Hadrah. Senoman dapat diartikan perkumpulan atau suatu perkumpulan orang-orang dengan maksud dan tujuan yang sama. Sedangkan, Hadrah diambil dari Bahasa Arab Hadrun yang berarti hadir.

Apabila digabung Senoman Hardrah adalah kegiatan penyambutan kehadiran seseorang/kelompok yang dihormati atau dimuliakan.

Sinoman Hadrah adalah suatu perkumpulan orang-orang yang melakukan aktivitas kesenian dalam menyambut kehadiran seseorang atau kelompok atau tamu yang sangat dihormati atau dimuliakan.

Ada beberapa macam alat yang dipergunakan dalam penampilaan kesenian Sinoman Hadrah yaitu rebana, babun, ketipung, tamborens, bendera, dan payung besar berhias. Sinoman Hadrah biasanya ditarikan secara berkelompok dengan jumlah minimal 30 orang yang terbagi atas pemusik, pemegang bandu, pemayung dan penari.

Penari rudat memegang bendera kecil berbentuk segitiga bertuliskan huruf arab (Asmaul Husna). Sinoman hadrah memadukan seni suara (qasidah) dan seni tari. Syair-syair yang dinyanyikan berisi puji-pujian dan sanjungan kepada Rasulullah. Dan juga syair-syair yang berisi petuah dan nasehat yang dilantunkan penuh dengan perasaan gembira.

Dahulu tarian ini hanya ditarikan oleh kaum laki-laki, namun seiring dengan perkembangan jaman, Sinoman Hadrah ditarikan oleh laki-laki dan perempuan. Busana untuk penari biasanya bervairasi dan dengan warna yang berbeda-beda sesuai dengan peranannya masing-masing.

Hadrah ini dibawa ke Nusantara oleh seorang ulama besar dari Negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi pada tahun 1259 – 1333H/1839 – 1931M, tujuannya sebagai media dakwah Islam. (Achmad Suwandi).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00