Ratusan Warga Banjar Perantauan, Termasuk Yang Tinggal Di Singapura, Hadiri Kongres Budaya Banjar

RRI Banjarmasin :  Kongres Budaya Banjar ke 5, yang berthema Silaturrahmi Dieratkan, Nilai Budaya Banjar Dilestarikan, dihadiri ratusan Keluarga Besar atau Kula-kula, yang datang tidak saja dari dalam negeri, tapi juga yang tinggal di Malaysia dan Singapura. Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Ahmad Subekti kepada RRI mengatakan, dengan banyaknya orang-orang Banjar yang ada di perantauan dan berkumpul di Banjarmasin, mereka turut menyatukan visi dan misi, serta memajukan Kalsel dalam budaya dan seni, dalam kegiatan diskusi dalam beberapa makalah dan hasilnya dirangkum. 

“Mereka pada saat ini berdiskusi dengan beberapa materi, beberapa makalah, dengan beberapa Narasumber yang sudah terkenal, baik dari Malaysia, Singapura, bahkan orang Banjar sendiri. Itu nantinya akan kita jadikan, akan kita rangkum hasil dari pada itu untuk memajukan budaya Banjar ke depannya,” tegas Subekti.

Sedangkan Taufik Arbain selaku Koordinator Seminar, yang juga Wakil Sekretaris Umum  di Kepengurusan KKB menyatakan, kita harus memperkuat silaturahmi orang-orang Banjar yang berada di luar daerah dan ada pemikiran-pemikiran mereka untuk mampu menangkap zaman terhadap berbagai perubahan yang terjadi, namun tetap menjaga identitas Kebudayaan Banjar.

“Orang Banjar terbentuk identitas kebudayaan Banjar. Dan Kebudayaan yang kita maksudkan itu tidak sekedar kebudayaan dalam konteks yang statis, tapi juga dalam konteks kepentingan-kepentingan Kebudayaan yang dinamis,” Taufik menegaskan.

Nola Febriani binti Salman, warga Banjar yang tinggal di Singapura, yang berprofesi sebagai Dosen, serta terakui di Majelis Ulama Islam Singapura sebagai Pensarah Agama atau Guru Agama mengatakan,  kegiatan itu membuatnya gembira atau himung.  Dia yang sudah 26 tahun tinggal di Singapura, merasa terasah kembali ketika ada Kongres Kebudayaan Banjar.

Adanya usulan jika dibuatkan website Kongres Kebudayaan Banjar, disambutnya dengan positif. Nola yang juga menjadi Pembicara dalam seminar KKB, dengan thema Peran dan Orientasi Perempuan Banjar Masa Lalu dan Masa Kini, di Singapura juga sudah membuka kelas Bahasa Banjar dalam sebuah organisasinya.

Demikian juga di social, menurut Nola, walaupun belum resmi organisasi tersebut, namun ada juga upaya untuk melakukan kegiatan pelestarian seni budaya Banjar, melalui berbagai forum dan membuat buku-buku seni budaya banjar.

“Sehingga Mereka yang kurang Melayunya, Kita kumpulan. Ayo kita adakan kelas Bahasa Banjar. Ayo kita mulai sekarang berbahasa Banjar. Di sosial ada. Masih ada keturunan-keturunan mereka yang sekarang ini membuat satu organisasi yang mungkin belum tersahkan. Tapi punya grup untuk  melestarikan. Misalkan di sana ada seni kebudayaan, mereka mengadakan forum. Jua yang seumuran Ulun ada maulah buku,” Nola menambahkan dengan Bahasa Banjarnya.

Ratusan peserta Kongres Budaya Banjar, juga akan dibawa dalam kegiatan wisata susur sungai hingga menuju Pasar Terapung Lokbaintan. Sedangkan peserta yang di hari minggu besok masih berada di Banjarmasin, akan dibawa ke area pasar terapung buatan di sungai martapura, siring menara pandang, jalan Kapten Piere Tendean Banjarmasin.(juns)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00