Jalan Mulus Kiram Mencuat, Debat Pamungkas 2 Cagub Kalsel Sempat Memanas

KBRN, Banjarmasin : Munculnya pokok bahasan infrastruktur jalan di kawasan kiram Kabupaten Banjar, pada debat pamungkas antara Paslon Gubernur dan Wakili Gubernur Kalsel, di Studio TVRI Kalsel, Sabtu (28/11/2020) malam.

Menjadi perdebatan panas antara dua calon Gubernur kalsel yakni No urut 1 Sahbirin Noor dan No urut 2 Deny Indrayana. 

Cagub Denny Indrayna sempat beberapa kali menyentil ketimpangan dalam pembangunan infrastruktur di Kalsel, dengan Kiram sebagai contohnya, karena menurutnya berbeda dengan daerah lain yang jalanan masih banyak rusak.

Denny mengatakan, saat ini prosentase jalan yang sedang rusak/rusak berat mencapai 58 persen. Sedangkan dari data BPS tahun 2019 ujarnya, jalan baik provinsi menurun, 33 %.

“Sepertiga jalan provinsi rusak. Mungkin ada jalan hotmik, tapi mohon maaf Pak Sahbirin, itu menuju Kiram. Pertanyaan, kenapa?,” ungkap Denny.

Disentil soal itu Sahbirin pun memberikan tanggapan khusus bahwa jalan yang dibangun di Kiram adalah bagian seluruh jalan yang dibangun di Kalsel seperti Menuju Kotabaru, Lontar, Jejangkit, dan banyak lainnya.

"Kenapa di Kiram dihotmik? Mulus. Saya bersyukur, berarti yang bekerja melaksanakan proyek dengan baik. Kalau diaspal tebalnya 5 cm, berarti benar-benar dilakukan 5 cm. dulu untuk mencapai ke sana hanya bisa ditembus dengan berjalan kaki. Padahal hanya 17 km dari pusat kota,” jawab Sahbirin.

Sahbirin pun mempertanyakan data yang dimiliki Denny. Ia mengatakan, bahwa kondisi jalan provinsi yang baik dan sedang adalah 71,7% pada 2017, dan menjadi menjadi 80,20 persen pada 2020.

“Saya meragukan data anda, kalo bisa data yang benar pun menjadi salah. Atau boleh kita lihat pada kesemptan lain," ucap Sahbirin.

Pada sesi lain, Sahbirin sempat mempertanyakan berbagai tayangan youtube Denny terkait rencana perbaikan jalan di Kalsel untuk mengelola dengan APBD Kalsel yang terbatas.

Denny pun menjawab bukan hal susah jika dilakukan dengan komitmen dan kebersamaan. Ia memberikan contoh, infrastruktur jalan provinsi yang rusak jika dilakukan pada tahun 2016 hanya butuh Rp 300 miliar, tapi jika baru dibangun tahun 2019, menjadi bengkak sebesar Rp 1,4 triliun.

"Jadi jika tidak dibairkan akan lebih mudah melakukan politik anggaran perbaikan jalan. Dan tentu misalnya, dengan sumber dana Rp 200 triliun uang batu baru tentu tidak akan susah sebenarnya mengalokasikan Rp 1,4 triliun,” katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00