Dispersip Siapkan Generasi Muda Untuk Menyambung Estafet Pembangunan Kalsel

Suasana meet and greet bersama novelis Eva Liana

KBRN, Banjarmasin : Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel terus berkomitmen untuk meningkatkan literasi dan minat baca generasi muda di Kalsel.

Salah satunya dengan mendatangkan novelis terkenal Eva Liana, pada kegiatan Meet and Greet dengan tema Literasi Membangun Generasi Muda yang Kreatif, Kritis dan Produktif.

Kegiatan inipun disambut antusias oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, guru dan pemustaka yang mengikuti baik secara online maupun onsite di Aula Dispersip Kalsel.

Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie diwakili Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan, Wildan Akhyar mengatakan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin menyiapkan generasi muda Kalsel untuk menyambung estafet pembangunan di masa yang akan datang.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini semangat membangun literasi di Kalsel lebih kuat lagi, sehingga generasi muda kita juga siap menyambung estafet pembangunan kedepannya,” kata Wildan, Banjarmasin, Selasa (9/8/2022).

Sementara itu, Eva Liana mengatakan, Indonesia termasuk Kalsel saat ini tengah menghadapi tantangan generasi yang instan, dimana mereka hanya mengejar pencapaian yang pragmatis atau yang hanya ada di depan mata saja, hingga tidak sedikit dari mereka menolak untuk sekolah.

“Jadi memang ada pergeseran nilai disini, orientasinya sudah berubah. Seperti halnya fenomena Citayam yang gak lepas dari rendahnya literasi di Indonesia karena mereka menganggap tidak penting buat sekolah,” kata Eva.

Untuk itu Eva pun berpesan, agar generasi muda Kalsel lebih berhati-hati dalam menyikapi kebebasan baik itu dari cara berpikir dan bersikap yang sesuai dengan standar kehidupan yang hakiki.

“Generasi muda kita harus berhati-hati dalam memaknai kebebasan di era saat ini. Jangan sampai kebebasan tersebut menggiring kepada perilaku yang serba mau, serba boleh, mengejar materi, mengabaikan moral, dan rentan terhadap mental illness karena mereka tidak punya patokan berpikir,” ucap Eva.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar