Rumah Gajah Manyusu Setelah Seabad, Mulai Lekang

KBRN, Banjarmasin - Struktur bangunannya masih kokoh,  mesti bagian dinding terlihat kropos bangunan tinggi  masih nampak ukiran-ukiran pada ornamen di atas jendela dan pintu, warna bangunan tampak kusam,  cat-cat nya sudah terkelupas.

Bangunan tua itu adalah rumah dengan arsitek Banjar, rumah gajah manyusu salah satu bentuk rumah adat Banjar,  selain ada rumah bubungan tinggi yang sudah sohor, rumah limas dan rumah gajah baliku.

Rumah gajah manyusu ini ada di kawasan kampung Sungai Jingah secara administratif berada di kelurahan Sungai Jingah kecamatan Banjarmasin Utara, Sungai Jingah merupakan satu dari banyak kampung-kampung tua di Kota Banjarmasin. Kampung yang menjadi di tempat asal muasal masyarakat Banjar bermukim seperti kampung Kuin,  kampung Alalak, kampung antasan,  kampung Kelayan, teluk tiram, seberang mesjid, kampung Melayu, kampung Pakauman, kampung Mantuil.

Di Sungai Jingah, ada belasan rumah dengan arsitek rumah Banjar, tentu sudah berumur, dibangun di kisaran tdhun 1900. Satu diantara belasan rumah tersebut, ada satu rumah yang tidak jauh dari kubah surgi Mufti makam tokoh ulama yang sering dikunjungi masyarakat baik yang ada di Banjarmasin maupun dari luar kota Banjarmasin

Rumah dengan arsitektur gajah menyusu, dihuni sepasang suami istri, sang suami bernama Hamberani yang kini ini sudah berumur 84 tahun, di usia senjanya nya bersemangat menceritakan pengalamannya nya dalam berbagai aktivitas pekerjaan dan organisasi terutama tokoh Pandu HW. Di rumah ini dia merancang berbagai aktivitas organisasi dan pekerjaan, di rumah ini pula dia mendidik anak-anaknya hingga dewasa.

Rumah gajah manyusu ini dibangun pada tahun 1912 oleh  Hasan Agus  tidak lain adalah kakeknya Hamberani, yang meninggal di usia 103 berikutnya dua generasi menghuni rumah ini yaitu M Seman orang tua  Hamberani,  baru kemudian keluarga Hamberani.

Lebih se abad rumah ini dihuni secara turun temurun. ''Saya bersama isteri dan 5 orang anak tinggal di rumah ini, kini mereka sudah berumah tangga masing masing,'' Ambo panggilan akrab Hamrani.

Tiang tiang rumah ini terbuat dari bahan kayu ulin,  kayu yang dikenal sangat kuat dan kokoh sering orang menyebutnya kayu besi.  Kayu ini adalah kayu endemik di Kalimantan Selatan,  di kawasan rawa seperti di kebanyakan lahan di Kalsel ,  kayu ulin yang terendam maka semakin kuat dan awet karena itu 100 tahun lebih kondisi tiang-tiang ini masih kokoh, tegak berdiri. Sementara atapnya terbuat dari kayu Ulin yang potong memanjang tipis, atap ini di namakan sirap. Atap sirap kini mulai langka dan kalaupun ada maka harganya sangat mahal.

Menurut Ambo, bentuk dan kondisi rumahnya seperti ini , mulai lekang, tampak kusam, karena sudah cukup lama belum pernah di rehab atau diperbaiki, untuk memperbaikinya memerlukan biaya yang tidak sedikit karena konstruksi rumah yang cukup tinggi kemudian kalau menggunakan bahan kayu Ulin juga harganya sekarang cukup mahal. "Memang ada niat untuk memperbaiki sedikit-sedikit mudah-mudahan ada rezeki,'' ucap Ambo.

Rumah Gajah Menyusu merupakan rumah adat Kalimantan Selatan, yang memiliki ciri berbentuk limas dengan adanya hidung bapicik atau atap mansart di bagian depannya. Ciri lainnya pada bagian anjung memiliki atap dari pisang sasikat dan bagian serambinya beratapkan Sindang Langit. Dahulu, bagian tubuh bangunan induk memiliki bentuk kontruksi segi empat memanjang dari depan hingga belakang.

Dimana pada bagian depannya di tutup dengan menggunakan atap perisai buntung. Atap ini dalam bahasa Banjar juga disebut dengan Atap Hidung Bapicik. Atap perisai buntung akan menutupi bagian Surambi Pamedangan sampai ruangan yang dibelakangnya. Kemudian dalam perkembangannya, rumah adat ini memiliki bentuk segi empat panjang. Ditambahkan beberapa ruangan pada samping kanan maupun kiri bangunan.

Seperti rumah yang dimiliki Hamberani, didepan tampak atap hidung bapicik kemudian pintu yang tinggi dan jendela yang lebar serta tinggi, sehingga sirkulasi di rumah adat Banjar ini ini terasa nyaman,  ketika jendela dibuka semua, maka rumah tampak terang.

Di samping rumah tampak ada anjungan yaitu tambahan sisi rumah di kiri dan kanan, kalau dilihat ke dalam  anjungan itu itu bisa dijadikan satu kamar. Ada ruang tamu dan ruang tengah serta dapur.

Beranda rumah gajah manyusu ini tampak lebar, dari halaman rumah untuk masuk ke beranda atau teras harus menaiki anak tangga, karena hampir semua rumah adat Banjar adalah berbentuk rumah panggung di mana di bawah rumah itu itu bisa menjadi tempat bermain anak-anak.

Rumah  ini persis menghadap sungai dulu ketika awal rumah ini dibangun, sama sekali tidak ada bangunan yang berada di atas bantaran,  sungai sehingga menurut Ambo ketika duduk-duduk di teras rumah ini maka terlihat sungai dengan berbagai aktivitas kehidupan termasuk kapal dan jukung yang ber hilir mudik.

Sering orang datang berkunjung ke rumah ini, ada yang datang karena penelitian tentang rumah adat Banjar ada juga karena tertarik melihat rumah dengan arsitektur adat Banjar ini, artinya rumah ini memiliki daya tarik, memiliki kekhasan. Bahkan menurut Ambo ada tamu asing yang yang tertarik melihat rumah adat gajah manyusu ini.

Mengitari kampung Sungai Jingah di pinggiran sungai Martapura maka akan ketemu beberapa bangunan khas, unik dan sudah  tua dengan arsitektur seperti ini. Diantara rumah rumah tersebut ada yang sudah tinggal kerangka, ditinggalkan penghuninya sehingga terlihat mulai miring, tiang-tiang yang terlepas, tinggal menunggu waktu akan roboh.

Hamberani yang pensiunan pegawai di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat ini, tidak ingin rumah milik leluhurnya ini menjadi seperti rumah adat Banjar yang sudah roboh atau hampir roboh. "Sayang kalau tidak di pelihara,'' tutur Ambo.

Rumah dengan arsitektur banjar ini tak lain adalah aset khasanah budaya banjar sejati tetap bertahan dan lestari, tak lekang karena panas dan lapuk karena hujan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00