Cerita ODHA, Dukungan Keluarga dan Semangat Sembuh

KBRN, Banjarmasin : Bagi banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA), salah satu titik terberat dalam hidup adalah saat pertama kali mengetahui status HIV positif mereka. 

Seperti yang dialami  Agus Yamanto  laki - laki 30 tahun yang mengetahui statusnya pada 2018. 

"Saat itu kondisi Saya dalam drop - dropnya, badan juga menurun drastis. dirawat juga di Rumah sakit Martapura,"katanya. 

Dalam kekalutan semacam itu, yang paling dibutuhkan oleh orang-orang seperti mereka adalah dukungan dari keluarga dan masyarakat, sesuatu yang tak selalu didapat karena stigma dan diskriminasi yang melekat. 

"Teman-teman yang pertama kali didiagnosa itu harus ada salah keluarganya yang tahu. Karena dengan kondisi seperti ini ada yang menguatkan kita,"ujarnya.

Proses menerima jati diri dimulai dengan menjadi pendamping odha dirumah sakit di kabupaten Banjar.  Disitulah  Ia mengaku "jiwa menolongnya bangkit. 

Sebagai pendamping, Ia berperan memberikan dukungan kepada ODHA, karena "Orang dengan HIV tidak bisa menyampaikan apa yang Ia rasakan.

"Kita susa sama siapa , sama curhat sama siapa. mau cerita sama keluarga apalagi orang tua belum siap. Jadi kita sendiri awalnya yang bisa menguatkan,"tambahnya.

Bagi Edi Sampana Sekreataris Komisi Penaggulangan Aids Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan, tapi kadar virusnya bisa ditekan dengan mengonsumsi obat-obatan antiretroviral (ARV) setiap hari.

"Selama orang itu menelan obat dengan disiplin artinya minum obatnya tepat waktu maka virus akan minimal sampai -sampai di lab tidak terdeteksi lagi,"tegas Edi. 

Kecanggihan ARV membuat banyak ODHA bisa hidup dengan fisik yang sehat dan tetap berkarya dan berdaya. 

Diperkirakan ada lebih dari 540.000 orang pengidap HIV/AIDS dan 24.000 kematian akibat penyakit terkait AIDS di seluruh Indonesia, menurut data UNAIDS.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar