Bisnis Bumbu Masak Mampu Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Istimewa

KBRN, Banjarmasin : Sejak hantaman pandemi covid-19 dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini di Indonesia terutama di Banjarmasin, sangatlah mempengaruhi tatanan dan sendi-sendi kehidupan, pengaruh terbesar adalah menghantam sektor perekonomian.

Berapa banyak perusahaan besar dan harus gulung tikar karena tidak mampu berproduksi serta tidak bisa memasarkan hasil usaha mereka karena pengaruh pendemi covid-19 ini, ditunjang dengan minat masyarakat untuk membeli yang kian hari semakin berkurang.

Dari berbagai macam usaha yang masih bertahan dimasa pandemi ini, salah satunya adalah berjualan bumbu masak yang hingga saat ini masih digemari oleh kalangan ibu rumah tangga.

Khusus dikota Banjarmasin, bisnis jualan bumbu masak hingga saat ini masih terus berjalan seolah tidak terdampak dari pandemi covid-19.

Proses mengolah masakan yang praktis tentunya menjadi pilihan bagi ibu rumah tangga yang kadang mempunyai kesibukan lain selain menjadi ibu rumah tangga, apalagi para pemilik restoran maupun rumah makan juga harus bergerak cepat dan akan sedikit menghemat waktu serta biaya apabila ingin menyajikan makanan kepada para pelanggan mereka.

Salah satu usaha penjualan bumbu masakan yang masih bertahan adalah Pondok Bumbu milik Hj Umi Kalsum yang berada di kawasan Sultan Adam Banjarmasin, yang berjualan aneka bumbu masakan siap saji dan bisa langsung digunakan.

“Bermacam macam bumbu yang kami jual, di antaranya seperti bumbu masak habang (merah), karih, rendang, asam manis, rawon, dan sop – bistik,” katanya belum lama tadi.

Ditambahkan, jika usaha lain banyak yang terkena imbas dari pandemi covid-19, usaha penjualan bumbu masak ini tidak terlalu banyak pengaruh yang signifikan.

“Penjualan normal saja selama ini, pembeli biasanya ramai mulai hari Kamis sampai Sabtu dan menjelang hari Minggu, berdasarkan pengalaman selama ini, pada akhir pekan itu banyak warga yang menggelar acara atau hajatan,” tambahnya.

Penjualan akan meningkat saat ada peringatan hari-hari besar keagamaan, seperti menyambut datangnya bulan Maulid dan jelang bulan puasa Ramadhan.

“Walau harga bawang dan cabai naik di pasaran, pembeli lebih memilih bumbu sudah jadi ini. Harganya kami jual sama saja, meski bahan bakunya mahal. Bahkan, kami juga tidak mengurangi kualitas maupun beratnya,” bebernya.

Untuk harga bumbu jadi sama rata, yakni Rp 60 ribu per kilogram dan Rp 3 ribu, dengan berat setengah ons. Bahkan setiap harinya mampu meraih omzet kotor jutaan rupiah.

Umi Kalsum merintis usahanya sejak tahun 2004 bersama keluarga. 

“Semua bumbu kami racik sendiri bersama 11 orang anggota keluarga, termasuk suami dan anak-anak,” tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00