Berkah di Balik Pandemi, Dessyana Banting Setir dari Oleh-oleh ke Konveksi

KBRN, Banjarbaru : Pandemi Covid-19 memaksa Dessyana Yudiarny (30) mengubah haluan usaha yang telah tujuh tahun dirintisnya. Tak disangka, bisnis baru yang digelutinya justru menawarkan prospek lebih cerah.

Mulanya, ibu tiga anak warga Jalan Tunas Baru, Kota Banjarbaru ini memproduksi aneka olahan ikan dan minuman buah dengan brand "Casheila". Pada Februari silam, ia menyetok bahan baku dalam jumlah besar untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan.

"Awal tahun biasanya banyak kunjungan, kegiatan pemerintahan, atau acara skala nasional, itu lumayan mendongkrak karena produk kami pangsa pasarnya oleh-oleh," ujar Dessyana kepada RRI, Sabtu (24/10/2020).

Tiba-tiba pada awal Maret, pemerintah mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Kala itu, volume pembelian oleh reseller mulai berkurang. Akhir Maret, barang reject menumpuk baik produk terdahulu yang sudah kedaluawarsa maupun produk baru yang dikembalikan karena tokonya tutup.

"Waktu bandara tutup itu yang berdampak paling besar. Sempat down melihat produk menumpuk, mau diapakan," kenang Dessyana.

Ia menghitung nilai seluruh produk itu saja mencapai hampir Rp30 juta, belum lagi sisa bahan baku. Beban perasaannya kian berat saat harus merumahkan karyawan. Pasalnya, banyak dari mereka yang setelah itu tak tahu harus bagaimana untuk mencari makan.

"Itu memotivasi saya untuk bergerak, tidak bisa diam terpuruk," kata Dessyana. 

Ia lalu melihat peluang bisnis baru, yakni pembuatan masker kain. Kala itu, masker medis mendadak langka di pasaran dan harganya melonjak. Kebetulan perempuan lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung ini memiliki keterampilan menjahit.

Saat coba dipasarkan secara online, di luar dugaan banyak yang tertarik dengan masker buatan Dessyana. Order terus mengalir dari yang awalnya hanya hitungan lusin, kini dalam sebulan produksi mencapai ribuan lembar. 

"Beberapa karyawan yang dirumahkan ditarik lagi, sebagian lagi kita rekrut penjahit di seputar Banjarbaru," sambungnya.

Pelan-pelan ia juga terus menambah peralatan mulai mesin jahit industri hingga mesin bordir dan sablon digital. Di kala banyak orang ramai-ramai membuat masker, ia mencoba tampil beda dengan melayani pembuatan masker custom. 

"Kita juga tidak ada minimal pesanan, pesan satu tetap dilayani," kata Dessyana.

Dari produksi masker, ia berniat untuk mengembangkan bisnisnya lebih jauh di bidang konveksi, bordir, dan percetakan. Selain memang sudah kepalang tanggung, juga karena bidang bisnis ini ternyata lebih 'cuan'. 

"Arah pengembangannya ke fashion dan home decor," bebernya.

Sementara bisnis lama Dessyana saat ini masih berjalan walau omzet jauh menurun dibanding sebelum pandemi. Dalam sebulan ia hanya melakukan 4-5 kali produksi untuk memenuhi permintaan beberapa toko dan reseller yang tetap bertahan.

"Kami coba mengambil berkah di balik musibah. Belajar sabar dan kreatif saat masa sulit, terjalin silaturahmi, dan ilmu yang saya dapat saat kuliah 10 tahun lalu akhirnya terpakai," pungkasnya. (FIT)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00