Harga Bahan Baku Tidak Stabil, Tempe Sepi Pembeli

Ilustrasi

KBRN, Banjarmasin : Pelaku produksi tempe di kawasan Jalan 9 November Benua Anyar mengeluh karena harga bahan baku kedelai tidak stabil, hal tersebut membuat pembeli tempe jadi sepi pembeli.

Seirozi Ali (65) pelaku produksi tempe rumahan mengatakan bulan Ramadhan ini usaha tampaknya kian mencekik. 

“Ya agak sepi, mana kacang kedelai naik terus,” katanya, Senin (3/5/2021).

Ia juga mengaku selama pandemi Covid-19 memang usahanya sudah mulai menurun ditambah saat itu bahan baku mulai naik dan peminat mulai berkurang. 

Ditambah tempat tingal sekaligus lokasi memproduksi tempe juga mengalami kerusakan pasca terendam banjir pada awal tahun 2021.

Dibanding sebelum adanya virus pandemi, harga bahan baku masih terjangkau, biaya produksi dan membeli bahan baku masih memiliki laba.

“Dulu itu normalnya di kisaran harga Rp 7 ribu – Rp 8 ribu. Sekarang sudah Rp 10 ribu per kilonya untuk satu karung 50 kg, terbayang kan berapa kalau satu ton,” ungkapnya.

Semenjak itu pula, pria yang sudah puluhan tahun menggeluti usaha tersebut mulai mengurangi jumlah produksinya. Dulu sekitar 3 sampai 4 karung dalam 1 hari semua habis terjual.

“Saat pandemi awalnya 2 karung itu paling banyak. Dan di beberapa minggu ini paling sekarung setengah,” tuturnya.

Selain kacang kedelai yang kian naik, bahan baku lain juga mengikuti kenaikan seperti plastik, daun pisang untuk pembungkus tempe dan bahan bakar untuk memproduksi.

“Semua naik, tapi saya tidak berani menaikan harga tempe, takut tidak ada yang membeli, dan persaingan usaha tempe sudah mulai ramai,” imbuhnya.

Untuk bertahan dalam situasi seperti ini, ia mulai mengurangi karyawan dan hanya melakukan seorang diri dan untuk menjual ke pasar dan pengantara dibantu oleh putranya.

“Jadi sementara ini hanya cukup untuk makan keluarga,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00