Jembatan Bromo dari 1250 Jiwa untuk Seluruh Warga Banjarmasin

collagemaker_20210107_110455661.jpg

KBRN Banjarmasin : Jembatan Antasan Bromo telah diresmikan dan ribuan orang ingin menyaksikan, mau merasakan naik jembatan yang masih terasa mengayun, berswafoto kemudian meng upload nya di media sosial.

Mereka yang datang bukan hanya dari Banjarmasin tetapi juga dari berbagai daerah kabupaten kota yang ada di Kalimantan Selatan. Tak ketinggalan yang datang dari provinsi tetangga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Namun karena masa pandemi covid 19, terpaksa harus ditutup dulu hingga bulan Maret yang akan datang. Sehingga ada beberapa pengunjung cuma hanya melihat dari jauh karena masih berkerumun nya orang yang ingin menikmati jembatan ikonik ini

 Namun tentu saja bagi masyarakat yang tinggal di pulau Bromo tetap bisa ber hilir-mudik melaksanakan aktivitas keseharian melewati jembatan ini.

Ini memang jembatan gantung pertama di wilayah kota Banjarmasin. Berbeda dengan kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Selatan jembatan gantung memang hal yang biasa dan lumrah, beberapa desa antar desa yang dipisahkan oleh sungai maka jembatan gantung menjadi alternatif penghubung.

Keinginan masyarakat antasan Bromo atau pulau Bromo ingin memiliki jembatan ini sudah cukup lama hampir 20 tahun karena selama ini masyarakat merasa  "terasing" ketika air surut maka banyak aktivitas terhenti misalnya ketika mau menyeberang air surut maka kapal klotok atau jukung tertambat di atas lumpur sehingga sangat sulit untuk mengeluarkannya nya, apa boleh buat mereka harus menunggu air pasang.

Dari sisi biaya tentu saja jauh lebih banyak yang harus mereka keluarkan ketika menggunakan kapal Fery , atau bawa klotok atau Jukung, belum lagi mereka harus memarkir kendaraannya di seberang pulau Bromo ini sehingga bagi masyarakat keberadaan jembatan ini sesuatu yang sangat disyukuri.

Perjuangan untuk mendapatkan jembatan telah dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat di pulau Bromo ini mereka mewakili setidaknya ada 1250 jiwa atau 750 KK masyarakat yang tinggal di pulau itu.

Memang sebagaimana catatan sejarah pulau Bromo ini semula satu daratan dengan kawasan lain di Banjarmasin, tetapi karena dibuat satu kanal atau terusan atau antasan dalam bahasa Banjar maka kemudian kawasan ini menjadi pulau.

Menurut cerita tokoh-tokoh masyarakat di pulau Bromo ini setiap tahun setiap ada pembahasan musyawarah perencanaan pembangunan keinginan untuk pembangunan jembatan ini selalu didengungkan, Walikota berganti walikota hingga pada saat Banjarmasin dipimpin oleh H Ibnu Sina dan wakilnya H. Hermansyah keinginan itu tercapai.

Di akhir masa pemerintahan pasangan H Ibnu Sina - H. Hermansyah perjuangan 1250 masyarakat pulau Bromo ini terwujud. Jembatan dengan desain menarik dan unik tentu saja sesuai dengan tujuan pengembangan Banjarmasin sebagai destinasi wisata sungai. 

Sempat sebelumnya ada pertanyaan kenapa menghabiskan dana begitu besar hingga Rp 40 miliar hanya untuk 1250 jiwa masyarakat yang ada di pulau Bromo, pertanyaan seperti ini wajar saja bisa muncul namun kalau kita lihat lebih jauh dalam konteks kesamaan hak dalam menikmati pembangunan,  tentu tidak boleh ada seorang pun di negeri ini yang termarginalkan karena kondisi infrastruktur apalagi ada 1250 jiwa yang hampir 20 tahun mengalami kondisi yang tentu saja tidak senyaman mereka yang ada di kawasan lain dalam menikmati hasil kemerdekaan.

Secara administratif, Pulau Bromo adalah salah satu pulau di Wilayah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pulau dengan jumlah penduduk 1.250 jiwa dari 750 KK yang diapit antara Sungai Martapura dan Sungai Barito. Memiliki empat RT yaitu 04, 05, 06, dan 07 di Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Profesi warga Pulau Bromo lebih banyak sebagai petani dan buruh bangunan. Sebelum dibangunnya jembatan gantung, akses menuju ke Pulau Bromo melalui penyeberangan kapal ferry sekitar 30 menit

Pertanyaan lain  yang pernah muncul terkait dengan pembangunan jembatan ini bahkan sempat terungkap ketika Komisi III DPRD kota Banjarmasin meninjau lokasi jembatan ini ketika sedang dalam tahap pembangunan. Kenapa hanya untuk angkutan roda dua dan roda tiga tidak memungkinkan untuk lalu lintas roda empat, meski dijelaskan oleh jajaran dinas PU Kota Banjarmasin untuk hal darurat bisa saja ambulans mini dan pemadam kebakaran melintas dengan pengaturan yang lebih ketat

Bisa dibayangkan kalau jembatan yang dibangun lebih besar apalagi model jembatan kabel seperti ini maka bisa dikalkulasi  biayanya pun akan berlipat-lipat, belum lagi kalau kita lihat beban lingkungan yang dimiliki oleh pulau Bromo ini jika lebih banyak mobil yang akan masuk ke kawasan ini

Kita berharap pulau Bromo tetap menjadi pulau yang bersih udaranya, tetap hijau dan  nyaman ada kawasan pertanian dan kebun masyarakat dan aktivitas ekonomi masyarakat secara terbatas di pulau itu. Hal ini bisa menjadi modal dasar untuk pengembangan kawasan wisata pulau Bromo ke depan  dengan model wisata agro,  wisata sungai dan wisata Kampung asri Banjar

Penataan secara apik kawasan ini tentu menjadi kunci kemajuan wisata pulau Bromo ini, adanya partisipasi masyarakat yang dimotori kelompok sadar wisata di kawasan ini, menjadi strategis agar wisata pulau Bromo betul-betul dimiliki warga setempat dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat kota Banjarmasin

Sehingga dari 1250 jiwa warga pulau Bromo yang tiada henti mendengungkan aspirasi hingga terwujudnya pembangunan jembatan ini, pengembangan pariwisata di depan mata ada manfaat ekonomi yang akan dirasakan masyarakat kemudahan dan kenyamanan aktivitas masyarakat

Mencermati antusiasnya mengunjung kekawasan ini, dari berbagai penjuru kota, dari berbagai kabupaten kota di Kalsel dan luar propinsi ini, tentu saja jembatan ini  menjadi kebanggaan warga Banjarmasin. Dari 1250 jiwa untuk warga Banjarmasin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00