Paribasa Dan Ungkapan Banjar, Refleksi Budaya "TAKURUNG BALAK ANAM"

Foto : Net Ilustrasi

KBRN, Banjarmasin : Dalam satu organisasi atau kelompok, biasanya ada saja yang berperangai buruk. Tingkah dan perbuatannya kerap merugikan lembaga. 

Akibatnya, semua kena imbas. Seolah yang lain sama buruknya, menimbulkan anti pati, resisten. Seseorang yang berperangai buruk dan memberi dampak bagi citra organisasi, disindir dengan ungkapan takurung balak anam.

Balak anam, adalah kartu domino yang nilainya enam-enam. Nilai paling tinggi dari semua kartu. Bila kartu ini tertahan di akhir permainan, alamat bermasalah, berakibat kalah dalam permainan, karena nilai angka yang tertahan sangat besar.

 Kalau balak anam hanya sendirian, harus segera diturunkan, jangan sampai tertahan atau takurung. Lawan akan menutup peluang agar balak anak tidak keluar, sementara yang memegang kartu berusaha mencari peluang agar balak anam tidak tertahan. 

Ada sifat atau karakter yang diilustrasikan dengan balak anam, yang berarti problem – trouble maker, pembuat masalah. Sebab musabab persoalan sering kali dari orang tersebut. Ingin sekali menyelesaikan sumber masalah dengan cara mengeluarkan yang bersangkutan dari kelompok, namun tidak mungkin.

Ada hak setiap orang untuk berpartisipasi dalam kelompok. Ada hak dasar bagi semua orang untuk berserikat dan berkumpul.  Hanya saja, ketika selalu membawa masalah, maka merugikan orang lain. Berdampak pada pada kelompok dan semua anggota. 

Ungkapan ini dengan halus menyindir tipe orang yang dianggap suka menjadi pembuat masalah. Perlu kerjasama dari semua orang menyelesaikannya. Seperti balak anam, yang harus diberikan jalan agar tidak tertahan pada tangan pemain dan membuatnya kalah. 

Maka orang seperti itu juga harus diatasi bersama oleh anggota kelompok. Tidak dapat diselesaikan orang perorang, karena seluruh dinamika kelompok, merupakan kontribusi dari semua orang yang ada pada kelompok tersebut. 

Kalau sudah disindir dengan ungkapan ini, ada baiknya memperbaiki sikap. Tidak ada yang tidak dapat diubah, sekali pun itu karakter. 

Berusahalah adaptif dengan lingkungan, pandai menempatkan diri, sehingga tidak menjadi orang asing, apalagi menjadi sumber masalah. 

Sebaliknya, anggota lainnya, harus terus mencari cara, agar balak anam justru menjadi potensi. Saat sudah menjadi potensi, tidak ada ketakutan takurung balak anam. (Norhalis Majid)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00