Masih Banyak Warga Pelihara Hewan Dilindungi

Istimewa

KBRN, Banjarmasin: Hewan dilindungi yang seyogyanya bukan dijadikan sebagai hewan peliharaan ternyata masih banyak terjadi di Kota Banjarmasin.

Bahkan, baru-baru ini Tim Animal Rescue Kota Banjarmasin telah berhasil mengevakuasi seekor beruk atau bangkui yang berkeliaran di Komplek Perdana Mandiri, Jalan Padat Karya, Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara.

Pada saat dievakuasi, beruk tersebut dalam kondisi kurus dan terdapat tali tambang kecil yang terbungkus selang plastik di bagian lehernya.

Hal itu menguatkan bahwa hewan yang keberadaannya dilindungi oleh negara tersebut menjadi peliharaan salah satu warga.

Salah satu anggota Tim Animal Rescue Kota Banjarmasin, Andy Putera mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari salah satu grup emergency di WhatsApp sekitar pukul 8.30 Wita.

Disana, pelapor menyebut keberadaan beruk peliharaan tersebut sudah meresahkan warga sekitar.

"Beruk ini jelas peliharaan warga, karena masih ada tali yang melingkar di bagian lehernya," ucapnya saat ditemui awak media usai proses evakuasi tersebut, Minggu (5/12) sore.

Ia menjelaskan, meski sudah lama dipelihara manusia, seekor beruk tetaplah hewan buas yang memiliki insting atau naluri hewan yang tinggi.

"Apalagi kalau beruk tersebut sudah memasuki tahap birahi," ujarnya.

Kembali ke proses evakuasi beruk. Andy menceritakan pihaknya memerlukan waktu satu jam setengah untuk bisa mengamankan seekor beruk yang berusia sekitar tiga tahun itu.

"Sayangnya waktu kita tangkap beruk ini sudah luka di bagian paha akibat ditembak warga pakai senapan angin sebelum kami datang," ungkapnya.

"Beruntung cuma sekedar luka dan sekarang sudah ditangani oleh petugas kesehatan hewan. Saat ini kita karantina untuk sementara waktu di Taman Satwa Jahri Saleh," tambahnya.

Sebelum ini, pihaknya juga pernah mengevakuasi hewan primata yang sama pada Kamis (18/11) yang lalu. Bahkan beruk peliharaan ini ukurannya lebih besar. Bobotnya pun seberat 50 Kg.

Hal ini menunjukkan adanya indikasi pemeliharaan beruk di Banjarmasin cukup banyak. Namun hanya beberapa yang terungkap akibat lepas dari sangkarnya.

"Prediksi kami beruk ini lepas akibat pemiliknya sudah jenuh untuk memeliharanya. Makanya dilepas yang akhirnya malah meresahkan warga," ujarnya.

Menurutnya, beruk bahkan bertambah liar jika memasuki fase birahi. Seperti yang terjadi di Kelurahan Alalak Utara.

Beruk yang berbobot 50 Kg itu mengamuk dengan menggigit betis dan lengan majikannya.

"Dari laporan pemilik beruk, nadi suaminya hampir putus akibat digigit beruk peliharaannya. Saking besarnya ukuran beruk, perlu 8 kali sumpit bius baru kami bisa mengevakuasinya dengan aman," ungkapnya.

Melihat dua kejadian tersebut, Andy pun lantas mengimbau warga agar tidak memelihara hewan appendix atau keberadaannya yang terancam punah. 

"Bagi yang memelihara beruk atau hewan dilindungi lainnya lebih baik dilepas liarkan saja ke alam. Atau bisa menyerahkan ke BKSDA agar keberadaannya bisa tetap lestari di alam," imbuhnya.

"Atau kalau memang ingin memelihara, lebih baik segera melaporkan atau meminta izin untuk memelihara hewan tersebut ke BKSDA. Saat ini rata-rata ilegal semua," tambahnya.

"Seperti anak lutung yang berhasil kita selamatkan dari perdagangan hewan langka di Banjarmasin beberapa waktu lalu. Itu salah satu contoh yang memperlihatkan kalau di Banjarmasin masih marak pemeliharaan hewan dilindungi," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar