BKKBN dan Komisi 9 DPR RI Bersama Lawan Stunting

Sosialisasi Lawan Stunting di Tasikmalaya (foto: Dok Humas BKKBN)
Anggota Komisi IX DPR-RI Nurhayati Efendi (Foto: Dok Humas BKKBN)

KBRN,Bandung: Langkah menekan prevalensi stunting tak kendur dilancarkan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat. Menggaet berbagai kalangan mitra sampai daerah-daerah. Menggelorakan pada khalayak untuk bisa berkolaborasi.

Pada Rabu (29/6), kegiatan mereka menyambangi Kabupaten Tasikmalaya. Mengonsentrasikan sosialisasi cegah stunting di wilayah ujung barat kabupaten ini. Tepatnya di Desa Singasari, Kecamatan Taraju. Menggandeng hadirkan anggota Komisi IX DPR RI Nurhayati Effendi.

Di tempat acara terpampang kentara nama event, Sosialisasi Program Bersama Mitra Kerja Tahun 2022. Menggunakan Gedung Serba Guna Desa Singasari. Dihadiri peserta hampir 200 orang. Terdiri jajaran muspika, perangkat desa, tokoh masyarakat, kalangan pemuda-pemudi, mahasiswa dan pelajar.

Berada di Urutan Kedua Terbesar

Menjadi pemateri pertama dalam acara, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DINSOSPPKBP3A) Kabupaten Tasikmalaya Dadan Hamdani. Memulai bahasan ia menyatakan, sangat mengapresiasi BKKBN Jabar yang melaksanakan kegiatan itu.

Upaya menekan sebaran stunting di wilayahnya cukup menjadi perhatian belakangan ini. Sebagaimana itu juga jadi amanat Perpres No.72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Mendukung kegiatan antara lain sudah dihadirkan Tim Percepatan Penurunan Stunting.

Prevalensi stunting di Kabupaten Tasikmalaya, catatan Dadan yang mewakili kepala dinasnya, di tahun 2013 sempat sebesar 41,75%. “Dulu dari jumlah balita yang ada setengahnya terkena gejala stunting. Kabupaten ini kala itu berada di urut kedua terbesar di Jabar,” sebutnya.

Dengan upaya-upaya yang dilancarkan, pada tenggat lima tahun ada penurunan cukup signifikan ke angka 33%. Data hasil survei di tahun 2021, di kisaran 24%. Dadan menilai penting segenap pihak berkolaborasi dalam pengentasan prevalensi stunting.

Langkah lain pada dinasnya, mengoptimalkan jajaran hingga mitra TPK (Tim Pendamping Keluarga), PKK, kader KB. Pelayanan hulu (remaja putri), bina keluarga, dll. Penekanannya kepada warga yang hadir untuk terus memerhatikan segala aspek pemicu stunting. 

Harus Malu

Pada sesi kedua pembicara, narasumber Koordinator Bidang Advokasi Penggerakkan dan Informasi (Adpin) Perwakilan BKKBN Jawa Barat Herman Melani. Mengawali bahasan dengan menegaskan, “Stunting itu pasti pendek. Tapi tidak semua yang pendek adalah stunting,” seraya mencontohkan sosok mantan Presiden Habibie yang tak jangkung tapi jenius. Termasuk dirinya.

Namun, yang harus menjadi perhatian adalah di proses tumbuh kembang anak tatkala tidak sesuai/normal. Mengkhawatirkan. Misal, sudah beberapa bulan kelahiran mestinya sudah bisa berjalan, ini tidak. Perhatian, penting memerhatikan asupan gizi dan tumbuh kembangnya.

Stunting adalah gejala kronis. Tidak ujug-ujug jadi. Stunting dampak kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama, sejak kehamilan hingga usia dua tahun balita. Cegah stunting semestinya perhatian sejak hendak menikah, minimal dalam usia 21 tahun perempuannya 25 tahun laki-lakinya. Kemudian, saat hamil, dan kawal tumbuh kembang bayi.

“Gejalan paling akrab stunting, anak bertubuh pendek, gagal tumbuh, terhambat perkembangan kognitif dan motoriknya,” ungkap dia. 

Yang tak kalah ditegaskan Herman, harus malu saat keturunan kena stunting. “Harus malu terkena stunting. Sebab, ini bisa dicegah. Jangan bersandar pada takdir,” ucapnya seraya menambahkan, penting tiap pasangan senantiasa memerhatikan kesehatan tubuh sebagai ikhtiar memiliki keturunan bertubuh sehat.

Awali Dari Keluarga

Giliran menjadi pemateri, Nurhayati menyatakan dampak kena stunting sebagai hal yang mengkhawatirkan bagi perkembangan suatu bangsa. Karenanya, tilai dia, pemerintah tengah gencar melakukan berbagai cara guna menekan bahkan menghilangkan prevalensi korban-korban anak terkena ke depannya.

Saran ia kemudian, seiring upaya-upaya pencegahan ini, pacu kesadaran dan pengetahuan keluarga tentang dampak stunting. “Jadi, awali pencerahan soal stunting ini dari keluarga, sejak kalangan yang mau menikah, status sosialnya yang sudah bekerja, hingga soal asupan gizi yang ideal,” paparnya.

Sempat disinggung Nurhayati, pihaknya ada di Komisi IX DPR RI yang menjadi mitra BKKBN. Pesannya berikut, lancarkan upaya pencegahan dengan intervensi langsung pada warga, fokus garap edukasi terhadap penderita stunting akut dalam prevalensi 17%. Kepada warga yang hadir, ia meminta menyebarluaskan informasi yang didapat pada yang lain.

Mewarnai kegiatan sosialisasi itu juga sempat diisi peringatan Hari Keluarga Nasional ke-29 Tahun 2022. Ditandai tiup lilin oleh Nurhayati. Selebihnya, ada sesi pemberian doorprize kepada peserta terundi. Dengan pertanyaan-pertanyaan berkait konten sosialisasi, rata-rata peserta turun dari panggung membawa aneka hadiah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar