Meski Masih Di Tengah Pandemi Minat Warga Subang Menjadi TKI Tetap Tinggi

Warga Subang Berbondong-bondong Mendaftar TKI Ke Disnakertrans Kabupaten Subang Untuk Perekaman Paspor (Foto Dok/Disnakertrans)

KBRN, Subang: Pandemi Covid-19 di Kabupaten Subang mulai melanda, ratusan warga Subang mulai membuat paspor, untuk bekerja ke luar negeri. Dengan negara tujuan kerja, seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, Hongkong, dan lainnya.

Fungsional Pengantar Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Andrie Lesmana, yang ditugaskan di Disnakertrans Kabupaten Subang mengungkapkan, selama setengah tahun ini, warga Subang yang mendaftar menjadi TKI, tercatat lebih dari 300 warga Subang, yang sudah melakukan perekaman, atau pembuatan paspor untuk bekerja ke luar negeri.

"Lebih dari 300 orang warga Subang, yang membuat paspor di Disnakertrans, umumnya mereka akan bekerja menjadi TKI ke luar negeri," ujar Andrie kepada wartawan di Subang, Rabu (28/6/2022).

Proses pembuatan paspor di Disnakertrans Subang, lanjut Andre, hanya untuk warga yang akan bekerja menjadi TKI ke luar negeri.

"Proses pembuatan paspor di Disnakertrans Subang, hanya dikhususkan untuk warga yang akan bekerja ke luar negeri, bukan pembuatan paspor umum," terangnya.

Andrie mengaku, pembuatan paspor untuk TKI, sejak pandemi covid-19 melandai, mulai meningkat.

"Pembuatan paspor untuk TKI masih banyak, karena sejak Pandemi Covid-19 melandai, beberapa negara tujuan TKI mulai membuka kembali lowongan pekerjaan untuk TKI," imbuh Andrie.

Andrie menjelaskan, hingga saat ini, minat warga Subang menjadi TKI, atau bekerja ke luar negeri masih sangat tinggi.

Pihaknya mencatat, ada 3 kecamatan di Subang yang menjadi kantung TKI, yakni Kecamatan Pusakanagara, Compreng, dan Pusakajaya. 

"Dari 3 Kecamatan itu, yang warganya banyak memilih bekerja ke luar negeri menjadi TKI, yang mayoritas bekerja menjadi Asisten Rumah tangga (ART). Subang juga masuk menjadi 5 daerah penyumbang terbanyak TKI, atau pekerja migran Indonesia (PMI) di Jawa Barat, bersama Kabupaten Karawang, Indramayu, Cianjur dan Majalengka," jelasnya.

Andrie juga mengungkapkan, berbagai alasan dan faktor utama, banyaknya warga Subang yang memilih bekerja menjadi TKI. Karena alasan, sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri.

"Faktor utama banyaknya masyarakat Subang, yang bekerja ke luar negeri adalah, soal minimnya lapangan kerja, sekalipun ada yang pakai uang terlebih dahulu. Selain itu, faktor ekonomi keluarga, juga sangat mempengaruhi," tutur Andrie.

Andrie juga menyebutkan, selain faktor ekonomi keluarga, dan minimnya lapangan kerja. Masih ada beberapa variabel lain, yang ikut menjadi daya dorong masyarakat Subang, untuk mencari kerja ke luar negeri tersebut.

"Variabel-variebal itu antara lain, karena ada iming-iming untuk mendapat uang, dalam jumlah banyak setiap bulan, dan gaji mereka akan dibayar dengan menggunakan mata uang dolar. Inilah yang membuat mereka tidak lagi berpikir soal risiko, yang dihadapi selama bekerja di luar negeri, sekalipun bekerja sebagai tenaga kerja ilegal," tegas Andrie.

Lebih lanjut Andrie menyatakan, sebelum pandemi covid-19, warga Subang setiap tahunnya yang bekerja sebagai TKI keluar negeri mencapai ribuan orang.

"Sebelum Pandemi, per tahunnya warga Subang, yang berangkat kerja keluar negeri mencapai rata-rata lebih dari 1.000 orang, bahkan di tahun 2019 mencapai lebih dari 8.000 orang, sektor kerjaan yang dipilih umumnya Asisten Rumah Tangga," ucapnya.

Dewi Lestari salah seorang Calon TKI asal Pusakajaya mengaku, saat ini sedang proses pembuatan paspor, untuk bekerja ke Taiwan.

"Saya sedang mengurus paspor untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga di Taiwan. Alhamdulillah, saat ini ke Taiwan sudah dibuka lagi karena Pandemi sudah melandai," ucap Dewi Lestari.

Meski pandemi masih ada, namun kata Dewi, peluang kerja menjadi TKI ke Taiwan, sudah mulai di buka.

"Sekalipun pandemi masih ada dan sudah melandai, saya akan tetap berangkat karena untuk memenuhi kebutuhan, dan saya sebagai tulang punggung keluarga," tegasnya.

Menjadi TKI sebagai solusi bagi keluarganya, khususnya untuk membiayai anak, dan sekaligus untuk masa depan anaknya.

"Berangkat bekerja ke luar negeri demi memperbaiki nasib, untuk masa depan keluarga khususnya anak," tukas Dewi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar